Perang AS-Israel Bangunkan "Macan Tidur", Iran-Korut "Bersatu"
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah analis menilai Iran dan Korea Utara (Korut) berpotensi kembali memperkuat kerja sama militer, terutama dalam pengembangan rudal dan teknologi nuklir. Ini terutama setelah perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel mereda.
Selama bertahun-tahun, Pyongyang diduga memasok teknologi rudal kepada Teheran serta memberikan bantuan teknis terkait pengayaan uranium. Para analis memperkirakan kerja sama ini bisa kembali meningkat ketika Iran mulai membangun kembali infrastruktur militernya yang rusak akibat konflik.
Hal ini dimuat laman Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), dikutip Senin (16/3/2026). Analis senior di Korea Institute for National Security (KINU), Cho Han-bum, mengatakan hubungan militer kedua negara kemungkinan akan kembali aktif.
"Korea Utara dan Iran kemungkinan akan kembali bekerja sama dalam pengembangan rudal serta pembangunan kembali fasilitas pengayaan uranium, karena Iran merasa sangat perlu memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan balasan besar," kata Cho.
Ia menambahkan bahwa hubungan kedua negara berpotensi semakin erat setelah konflik berakhir. Ketika perang berakhir, tambahnya, sangat mungkin kedua negara akan memperkuat hubungan bilateral mereka.
Dukungan Korut ke Iran
Di tengah konflik yang berlangsung, Korut juga menyatakan dukungannya terhadap terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Kementerian luar negeri Korut melalui kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA) menyatakan menghormati keputusan tersebut.
"Kami menghormati hak dan pilihan rakyat Iran dalam memilih pemimpin tertinggi mereka," kata kementerian tersebut.
Sebelumnya, Pyongyang juga mengecam serangan militer yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran. AS dan Israel disebut emenghancurkan fondasi perdamaian di kawasan.
"Kami dengan tegas mengecam tindakan agresi Amerika Serikat dan Israel yang menghancurkan fondasi perdamaian serta keamanan kawasan, sekaligus memperburuk ketidakstabilan global melalui serangan militer ilegal terhadap Iran," ujarnya.
Uji Coba Rudal Korut
Sementara itu, di tengah meningkatnya ketegangan global, pemimpin Korut Kim Jong-un baru-baru ini mengawasi peluncuran rudal jelajah strategis dari kapal perusak terbaru negaranya. Menurut KCNA, Kim menyatakan kekuatan nuklir Korut kini telah memasuki fase baru.
Ia menyatakan bahwa kekuatan nuklir negara itu telah memasuki "fase operasi multi-peran". Ia menekankan pentingnya mempertahankan serta memperluas "kemampuan penangkal nuklir yang kuat dan andal".
Uji coba ini berlangsung bersamaan dengan akan dimulainya latihan militer tahunan gabungan antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika yang dikenal sebagai Freedom Shield, 19 Maret. Adik perempuan Kim, Kim Yo-jong, memperingatkan bahwa latihan tersebut bisa memicu konsekuensi serius.
"Pamer kekuatan militer dari pihak-pihak yang bermusuhan di dekat wilayah kedaulatan dan keamanan negara kami dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat mengerikan dan tak terbayangkan," katanya.
Mengutip AFP, Minggu, Iran melakukan uji coba nuklir lagi, setelah Sabtu meluncurkan sekitar 10 rudal balistik. Uji coba kemarin melibatkan 12 peluncur roket multipel ultra-presisi kaliber 600mm dan dua kompi artileri.
Kerja Sama Militer yang Sudah Lama
Perlu diketahui, hubungan militer Iran dan Korut sebenarnya telah terjalin lama sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada 1973. Kerja sama ini semakin berkembang pada masa Perang Iran-Irak pada 1980-an, ketika Iran membutuhkan rudal untuk membalas serangan Irak.
Pada periode tersebut, Korut dilaporkan memasok rudal balistik Scud-B dan Scud-C kepada Iran. Pada dekade 1990-an, program rudal Iran seperti Shahab juga disebut dikembangkan menggunakan teknologi dari rudal Nodong milik Korut.
Peneliti senior di KINU, Oh Gyeong-seob, mengatakan kerja sama tersebut kemungkinan masih berlangsung secara rahasia hingga kini. Ia juga menambahkan bahwa sanksi internasional membuat Iran memiliki sedikit pilihan untuk memperoleh teknologi militer.
"Sangat mungkin Korea Utara-yang dilarang menjual senjata dan teknologi militer akibat sanksi internasional-telah bekerja sama secara diam-diam dengan Iran," katanya.
"Karena sanksi, Iran memiliki sangat sedikit sumber alternatif selain Korea Utara dan Rusia untuk impor senjata. Sangat kuat dugaan bahwa kemajuan Iran dalam pengembangan rudal dan teknologi nuklir mendapat bantuan dari Korea Utara," jelasnya.
(sef/sef) Add
source on Google