Iran-Israel Perang, Bahan Baku Kemasan Minuman di RI Bisa Kena Dampak

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 13/03/2026 16:55 WIB
Foto: Sejumlah pekerja mengangkut air minum dalam kemasan (AMDK) galon dengan alat pemberat di distributor Aqua di kawasan Jakarta, Kamis, (14/11/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri makanan dan minuman (mamin) mulai mewaspadai potensi kenaikan harga produk minuman dalam kemasan, khususnya air minum dalam kemasan (AMDK). Kekhawatiran ini muncul seiring potensi kenaikan harga bahan baku plastik yang digunakan sebagai kemasan, yaitu minyak bumi yang terdampak perang Iran-AS & Israel.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan, tekanan biaya bagi industri makanan dan minuman bukan berasal dari konsumsi energi yang besar seperti pada industri kimia, semen, maupun logam. Namun, lonjakan biaya justru berpotensi datang dari komponen kemasan.

Menurutnya, dalam sejumlah produk minuman, komponen kemasan bahkan memiliki porsi biaya yang sangat dominan dalam struktur produksi.


"Kalau industri makanan dan minuman itu bukan tipe industri padat energi seperti kimia, logam atau semen. Energi yang kami gunakan tidak terlalu besar sehingga dampaknya tidak terlalu signifikan," ujar Putu di Kemenperin, Jumat (12/3/2026).

Meski begitu, ia menekankan bahwa industri mamin sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan kemasan, khususnya plastik berbasis minyak bumi yang banyak digunakan untuk botol dan kemasan minuman.

Dalam sejumlah produk bahkan nilai kemasan dapat lebih mahal dibandingkan isi produk itu sendiri. Hal ini paling terlihat pada produk air minum dalam kemasan.

"Untuk air minum dalam kemasan itu yang mahal sebenarnya bukan airnya, tetapi kemasannya. Jadi komponen biaya terbesar justru berasal dari botol plastiknya," kata Putu.

Ia menggambarkan dampak kenaikan harga plastik bisa jauh lebih besar bagi industri makanan dan minuman dibandingkan sektor lain. Jika di sektor hulu kenaikan hanya terjadi dalam persentase kecil, dampaknya bisa berlipat pada industri hilir.

"Kalau di sana naiknya misalnya 10%, di kami bisa menjadi 60%. Bahkan kalau di sana 50%, di sini bisa sampai 380%. Dampaknya bisa sangat besar," ujarnya.

Menurutnya kondisi ini terjadi karena plastik yang digunakan untuk kemasan berasal dari bahan baku petrokimia atau petroleum based plastic yang harganya sangat dipengaruhi kondisi global.

Kenaikan harga bahan baku plastik tidak hanya mempengaruhi biaya produksi, tetapi juga berpotensi berdampak pada harga jual produk di pasar.

Namun Putu mengatakan potensi kenaikan harga produk belum dapat dipastikan dalam waktu dekat karena industri masih melakukan pembahasan dengan asosiasi dan produsen bahan baku.

"Berapa kenaikannya belum bisa kami sampaikan sekarang karena masih dalam proses diskusi dengan asosiasi seperti GAPMMI dan juga produsen kemasan," katanya.

Di sisi lain, ia memastikan pasokan makanan dan minuman untuk kebutuhan Lebaran saat ini dalam kondisi aman karena sebagian besar produk sudah lebih dulu didistribusikan ke pasar.

Distribusi tersebut dilakukan oleh produsen jauh sebelum periode puncak permintaan agar stok tetap tersedia di tingkat distributor dan ritel.

"Untuk kebutuhan Lebaran sebenarnya sudah aman karena produk makanan dan minuman sudah didistribusikan sebelumnya ke distributor," ujarnya.

Namun khusus untuk air minum dalam kemasan, pola distribusinya berbeda karena produk tersebut memiliki volume besar sehingga biasanya dipasok sesuai kebutuhan pasar.

"Air minum kemasan biasanya tidak disimpan terlalu lama oleh distributor karena volumenya besar. Biasanya suplai dilakukan sesuai kebutuhan," kata Putu.


(hoi/hoi) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Tergantung Bahan Baku Impor, Industri Mamin RI Sulit Bersaing