Usai Lebaran, Pemerintah Atur Ulang Alokasi BBM? Ini Kata ESDM

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Kamis, 12/03/2026 17:10 WIB
Foto: Konferensi pers pembukaan Posko Nasional Sektor ESDM Periode Hari Raya Idul Fitri 2026. (Tangkapan Layar Youtube/KementerianESDM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan implementasi bahan bakar nabati (BBN) sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) akan dipercepat. Tidak lain hal itu supaya Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Di samping itu, upaya percepatan implementasi BBN menjadi jawaban atas menipisnya stok minyak dunia imbas dari memanasnya konflik di Timur Tengah. Padahal, Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah.

"Yang pertama itu kan kita tidak hanya tergantung kepada BBM, tetapi ya maksudnya BBM yang berbasiskan fosil. Kita juga ada alternatif ini peningkatan implementasi dari B40 (biodiesel 40%), B50 (biodiesel 50%)," ujar Yuliot di Kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (12/3/2026).


Implementasi B50 juga menjadi jawaban atas kekhawatiran jika Indonesia sulit mengakses minyak dari negara lain. Hal itu diklaim telah dilaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto sebagai langkah antisipasi Tanah Air.

"Itu kan Pak Menteri sudah diminta oleh Presiden untuk melakukan antisipasi. Bagaimana kalau kondisi ini dalam kondisi keterbatasan, ya justru ya kita akan implementasikan itu B50 secepatnya," imbuhnya.

Selain mempercepat implementasi B50, pemerintah juga menyiapkan antisipasi lainnya untuk BBM jenis bensin. Bensin sendiri bisa dicampurkan dengan bioetanol (BBN dari molase tebu).

"Nanti kita akan mandatorikan. Jadi mandatori sesuai dengan ketersediaan bahan baku di dalam negeri ya mungkin nanti jadi mandatori E5, E10 ya bahkan pada tahun 2028 ya kita sudah mencanangkan untuk E20," tandasnya.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Energy Forum B50: RI Bakal Surplus BBM Solar, Perlukah B50?