Marak Warga RI Jadi Pedagang Uang Baru di Jalan, Raup Untung Gede

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Kamis, 12/03/2026 14:46 WIB
Foto: Sejumlah orang menawarkan pecahan uang jelang perayaan Idul Fitri di kawasan Kota Tua dan Pasar Asemka, Jakarta Utara, Kamis (12/3/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang Lebaran, ada fenomena unik yang terlihat di pinggir jalan setiap tahunnya, di mana hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang membutuhkan uang pecahan kecil jelang Idul Fitri untuk dibagikan sebagai angpau pada sanak saudara.

Adapun fenomena tersebut yakni jasa penukaran uang baru di pinggir jalan atau yang kerap disebut inang-inang.

Inang-inang mulai muncul jelang Lebaran karena permintaan penukaran uang cukup tinggi, sehingga banyak orang yang memanfaatkan menjadi ladang bisnis tiap tahunnya.


Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di kawasan Kota Tua dan Pasar Asemka, Jakarta Utara, Kamis (12/3/2026), inang-inang mulai bermunculan pada pukul 11:00 WIB. Namun pada pukul 12:00 WIB, inang-inang pun makin banyak.

Mereka berjejer menawarkan pembeli sambil menunjukkan pecahan uang Rp2.000 hingga Rp100.000. Secara umum, pecahan uang yang paling banyak diburu oleh masyarakat biasanya pecahan Rp2.000 sampai Rp10.000. Sistem tarif atau jasa penukaran diambil 15% dari setiap transaksi.

Foto: Sejumlah orang menawarkan pecahan uang jelang perayaan Idul Fitri di kawasan Kota Tua dan Pasar Asemka, Jakarta Utara, Kamis (12/3/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Sejumlah orang menawarkan pecahan uang jelang perayaan Idul Fitri di kawasan Kota Tua dan Pasar Asemka, Jakarta Utara, Kamis (12/3/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Keuntungan yang didapat cukup besar, di mana potensinya bisa mencapai puluhan juta. Salah satunya yakni Yeni, di mana nominal uang yang ditawarkan mulai dari pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000. Dia bilang bisa menukarkan uang antara Rp 5 juta - Rp 10 juta setiap harinya.

"Di sini uang yang bisa ditukar dengan pecahan Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, dan Rp20.000, setiap penukaran ada tambahan (fee) 15%, bisa tukar minimal Rp100.000," kata Yeni saat ditemui CNBC Indonesia, Kamis (12/3/2026).

Yeni menambahkan, uang yang mereka bawa dalam penukaran berasal dari 'bos' yang menyiapkan modal hingga ratusan juta. Adapun sosok bos yang dimaksud merupakan pemodal utama para penyedia jasa. Dengan sistem 'pinjam', penyedia jasa mendapatkan uang baru untuk ditukar di pinggir jalan. Nantinya uang baru ini akan dikembalikan lagi usai seharian dijajakan di pinggir jalan.

"Puluhan juta modalnya. Ada kita pinjaman dari bos, nanti kalau sudah pulang kita kembalikan lagi yang dipinjam. Sisa dapat berapa, itu yang kita bawa pulang," lanjutnya.

Karena alasan ini jugalah tarif penukaran yang dikenakan kepada pelanggan cukup tinggi. Sebab para penyedia jasa dari awal sudah dikenakan tarif saat meminjam modal dan uang baru dari sang bos.

Kata dia, bos menetapkan fee sebesar 15%, di mana 12% untuk diberikan bos dan sisanya yakni 3% untuk pedagang.

"Dari bos-nya sudah kasih 12%, jadi kita cuma ambil 3% saja," ujarnya

Meski pedagang hanya mendapat sedikit keuntungan dari penukaran, tetapi rata-rata omzet bisa mencapai puluhan juta. Apalagi semakin mendekati hari raya, potensi meraup keuntungan makin besar dengan besaran fee yang bisa juga naik.

"Ya bisa lah dapat puluhan juta, kalau makin mepet Lebaran, makin besar keuntungannya, modal yang saya tahu sih dari bos Rp30 juta lah ya, kalau ramai, bisa dapat Rp 50 juta, jadi keuntungannya bisa Rp 20 juta," ucapnya.

Berbeda dengan Fani, pedagang jasa tukar uang lainnya, di mana secara rata-rata bisa meraup omzet Rp15 juta per harinya. Omzet tersebut dihitung dari modal dan keuntungan yang didapat dari fee. Kata dia puncak 'panen uang' biasanya terjadi di H-2 Lebaran.

"Ya rata-rata bisa dapat untung Rp15 juta, kalau ramai pas H-2 Lebaran, bisa lebih," kata Fani.


(chd/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemerintah RI Siapkan Langkah Strategis Kelola Arus Mudik