Amerika Gagal, Intel Ungkap Rezim Khamenei Tak Akan Runtuh di Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Intelijen Amerika Serikat (AS) mengindikasikan bahwa kepemimpinan Iran saat ini sebagian besar masih utuh dan tidak berada dalam risiko keruntuhan dalam waktu dekat. Penilaian ini muncul setelah hampir dua minggu pemboman tanpa henti yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap wilayah tersebut.
Menurut tiga sumber yang memahami masalah ini, berbagai laporan intelijen memberikan analisis yang konsisten bahwa rezim Teheran tidak dalam bahaya kehancuran. Salah satu sumber yang meminta anonimitas untuk membahas temuan intelijen AS tersebut menyatakan bahwa pemerintah Iran tetap memegang kendali penuh atas masyarakatnya.
"Multitudo laporan intelijen memberikan analisis yang konsisten bahwa rezim tidak dalam bahaya keruntuhan dan tetap mempertahankan kendali atas publik Iran," kata sumber tersebut dikutip Reuters, Kamis (12/3/2026).
Laporan terbaru ini diselesaikan dalam beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya tekanan politik akibat melonjaknya biaya minyak dunia. Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan bahwa ia akan segera mengakhiri operasi militer AS terbesar sejak tahun 2003 tersebut, namun menemukan akhir perang yang dapat diterima terbukti sulit jika para pemimpin garis keras Iran tetap berkuasa.
Pelaporan intelijen tersebut menggarisbawahi kohesi kepemimpinan ulama Iran meskipun Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah tewas pada hari pertama serangan. Trump sebelumnya mendesak warga Iran untuk mengambil alih pemerintahan, namun para pembantunya membantah bahwa tujuan utamanya adalah penggulingan kekuasaan secara paksa.
Meskipun serangan udara telah menewaskan puluhan pejabat senior dan komandan tinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), intelijen menunjukkan bahwa organisasi tersebut masih solid. Majelis Ahli bahkan telah mendeklarasikan putra Khamenei, Mojtaba, sebagai pemimpin tertinggi yang baru untuk menjaga stabilitas rezim.
Di tengah situasi tersebut, milisi Kurdi Iran yang berbasis di Irak sempat berkonsultasi dengan AS mengenai kemungkinan serangan ke wilayah barat Iran. Abdullah Mohtadi, kepala Partai Komala Kurdistan Iran, mengeklaim bahwa unit-unit keamanan Iran mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan di wilayah perbatasan.
"Kami telah menyaksikan tanda-tanda kelemahan yang nyata di wilayah Kurdi. Puluhan ribu orang muda siap mengangkat senjata melawan pemerintah jika mereka menerima dukungan AS," ujar Mohtadi.
Namun, laporan intelijen AS justru meragukan kemampuan kelompok Kurdi tersebut untuk mempertahankan perlawanan jangka panjang karena kurangnya daya tembak. Menanggapi hal ini, Trump secara tegas telah mengesampingkan opsi untuk membiarkan kelompok Kurdi melakukan inkuisi ke dalam wilayah Iran.
Ambisi Israel Tumbangkan Rezim
Sementara itu, pihak Israel menunjukkan sikap yang lebih agresif meski mengakui adanya realitas yang sulit di lapangan. Pejabat Israel dalam diskusi tertutup dikabarkan mulai menyadari bahwa kampanye militer saat ini belum tentu berujung pada runtuhnya pemerintahan ulama di Teheran.
Seorang pejabat senior Israel mengungkapkan pengakuan tersebut dalam sebuah diskusi terbatas yang bocor ke media. Ia menekankan bahwa dinamika internal Iran sangat kompleks meskipun telah digempur habis-habisan dari udara.
"Israel dalam diskusi tertutup juga telah mengakui bahwa tidak ada kepastian perang akan menyebabkan keruntuhan pemerintah ulama," kata pejabat senior Israel tersebut.
Meski ada pengakuan tersebut, sumber lain yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa Israel tidak memiliki niat untuk membiarkan sisa-sisa pemerintahan lama tetap tegak berdiri. Tel Aviv tetap pada pendiriannya untuk menghancurkan struktur kekuasaan Iran hingga ke akar-akarnya.
Strategi Israel untuk menggulingkan rezim diprediksi akan memerlukan eskalasi yang jauh lebih besar daripada sekadar serangan udara. Hal ini merujuk pada perlunya intervensi fisik yang dapat memicu perlawanan rakyat secara masif di jalanan-jalanan Teheran.
"Israel tidak berniat membiarkan sisa-sisa pemerintahan sebelumnya tetap utuh. Hal itu kemungkinan akan membutuhkan serangan darat yang memungkinkan orang-orang di dalam Iran untuk melakukan protes di jalanan dengan aman," ujar sumber keempat tersebut.
source on Google [Gambas:Video CNBC]