Industri Tambang Gencarkan Solusi Energi Rendah Karbon, Ini Buktinya

Elga Nurmutia, CNBC Indonesia
Kamis, 12/03/2026 11:16 WIB
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya transformasi menuju praktik pertambangan yang berkelanjutan terus digencarkan oleh para pelaku usaha industri pertambangan Indonesia. Transformasi ini perlu dipercepat sejalan dengan peningkatan biaya energi.

Selain itu, pendekatan operasional yang lebih rendah emisi, efisien, dan berkelanjutan perlu dilakukan guna menjaga daya saing di tengah perubahan lanskap energi global.

Asal tahu saja, sektor pertambangan berkontribusi sekitar 10,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Kendati begitu, sektor ini sedang berada dalam fase transisi penting sejalan dengan target nasional penurunan emisi sebesar 31,89% pada 2030 serta meningkatnya standar keberlanjutan dalam rantai pasok global.


Lebih lanjut, terdapat tantangan yang cukup berat pada industri pertambangan, yakni tingginya ketergantungan operasional tambang terhadap bahan bakar fosil, baik untuk pembangkit listrik di area terpencil maupun mobilitas armada operasional. Penggunaan bahan bakar fosil yang masif tidak hanya berdampak terhadap peningkatan emisi, melainkan juga mempengaruhi efisiensi biaya dan keandalan pasokan energi di lapangan.

Dalam skala global, sektor pertambangan sendiri diperkirakan berkontribusi sekitar 4-7% emisi gas rumah kaca dunia yang menjadikannya salah satu sektor strategis dalam upaya transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Ketua Komite Komunikasi & Government Relations APBI-ICMA (Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia - Indonesian Coal Mining Association), Aditya Pratama memandang sektor pertambangan nasional mulai menunjukkan kesiapan untuk mengadopsi praktik green mining. Akan tetapi, dalam implementasinya perlu dilakukan secara bertahap sesuai kesiapan operasional dan infrastruktur di masing-masing perusahaan lantaran setiap site tambang memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda.

Dia melanjutkan, transformasi menuju green mining kini semakin dipandang sebagai kebutuhan bisnis jangka panjang. Tantangannya adalah bagaimana memastikan implementasi dapat berjalan lebih cepat dan lebih luas, didukung ekosistem teknologi yang semakin siap, serta kolaborasi yang kuat antara pelaku industri, pemerintah, dan penyedia solusi.

"Ketergantungan dengan energi fosil khususnya di Indonesia itu memang masih sangat besar dan juga penyumbang PDB ya. Artinya dengan adanya transisi energi ini, saya pribadi dari POV saya memang sangat bagus, ramah energi lah itu salah satunya," ujar dia dalam Media Gathering bersama SUN Energy, Rabu (11/3/2026).

Untuk itu, implementasi green mining membutuhkan pendekatan sistem energi yang dirancang secara menyeluruh sesuai kebutuhan operasional setiap site tambang. Integrasi antara sumber energi terbarukan, sistem penyimpanan energi, serta teknologi pemantauan operasional menjadi salah satu pendekatan yang mulai dipertimbangkan untuk mendukung operasional tambang yang lebih efisien dan rendah emisi.

Di samping itu, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di area tambang juga diyakini semakin relevan karena mampu menjawab beberapa kebutuhan utama sekaligus, mulai dari pengurangan ketergantungan pada diesel, peningkatan efisiensi biaya operasional, hingga penguatan ketahanan pasokan energi di lokasi terpencil. Berkat dukungan sistem penyimpanan energi baterai, pemanfaatan energi surya juga dapat menjadi solusi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan operasional tambang yang dinamis.

CEO SUN Energy, Jefferson Kuesar menjelaskan, strategi green mining yang efektif perlu melihat karakter operasional tambang secara menyeluruh. Oleh sebab itu, implementasinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing site. Pada akhirnya, integrasi antara energi surya, penyimpanan energi, dan sistem monitoring menjadi penting agar perusahaan tambang dapat menekan emisi sekaligus menjaga efisiensi dan kontinuitas operasi.

"Kalau dari sisi kita, kalau ngeliatin jumlah pemakaian listrik dan juga diesel itu bisa dibilang mining industri nomor satu di Indonesia. Jadi kalau dari sisi peluang bisnis juga jadi industri yang potensi terbesar untuk kita lalu untuk mendeliver cost saving itu," kata dia.

Tak hanya dari sisi pembangkitan energi, SUN juga melihat elektrifikasi armada operasional sebagai langkah strategis berikutnya dalam mendorong operasional tambang yang lebih rendah emisi. Sebab, mobilitas menjadi salah satu komponen penting dalam rantai operasional tambang, sehingga transformasi menuju kendaraan listrik dapat memberikan dampak yang signifikan, baik dari sisi lingkungan maupun efisiensi operasional.

CEO SUN Mobility, Karina Darmawan bilang, elektrifikasi armada perlu dipandang sebagai bagian dari transformasi operasional yang lebih menyeluruh. Implementasinya harus disesuaikan dengan karakteristik tambang, mulai dari jenis armada, rute operasional, intensitas penggunaan, hingga kesiapan infrastruktur pengisian dayanya.

Dia melanjutkan, apabila dirancang dengan tepat, elektrifikasi dapat membantu perusahaan tambang menekan emisi, meningkatkan efisiensi biaya, dan menciptakan sistem operasional yang lebih modern serta lebih terukur.

"Jadi memang solusi transformasi ke kendaraan listrik ini yang perlu dipastikan satu infrastrukturnya. Sama seperti di Jakarta ya, ketika kita mau mengganti ke mobil listrik, pertanyaan kita pertama nanti saya mengecasnya dimana? Karena semua yang ditakutkan adalah jangan sampai tidak cukup energinya. Jadi satu yang biasa kita lakukan, kita juga termasuk electrification planning," jelasnya.

Di masa mendatang, kesiapan teknologi bukan satu-satunya faktor penentu transformasi green mining. Transformasi tersebut memerlukan kolaborasi antara seluruh stakeholder.

Lewat pendekatan yang terintegrasi, SUN senantiasa berkomitmen untuk mendukung sektor pertambangan Indonesia dalam membangun operasional yang lebih rendah karbon, efisien, dan tetap berdaya saing. Dalam konteks ini, SUN telah mulai mengimplementasikan pendekatan energi terintegrasi yang mencakup pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sistem penyimpanan energi baterai (BESS), infrastruktur pengisian kendaraan listrik, serta elektrifikasi armada operasional sebagai bagian dari solusi untuk mendukung transformasi menuju green mining di Indonesia.


(dpu/dpu) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Nato: Serangan As Ilegal & Tak Jelas - Jangan Timbun Uang di Rekening