Investigasi Bocor, Serangan AS Salah Sasaran-Bunuh 168 Anak SD Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Temuan awal penyelidikan militer yang masih berlangsung mengungkapkan Amerika Serikat bertanggung jawab atas serangan rudal menghantam sebuah sekolah dasar di Iran pada hari pertama perang, menewaskan sedikitnya 168 anak-anak dan 14 guru.
Laporan mengenai temuan awal investigasi militer ini pertama kali diungkap oleh The New York Times, sementara penyelidikan resmi masih terus berjalan.
Serangan pada 28 Februari itu menghantam Sekolah Shajareh Tayyiba di kota Minab. Dua sumber yang mengetahui hasil awal investigasi mengatakan serangan tersebut kemungkinan terjadi karena militer AS menggunakan informasi lama mengenai lokasi pangkalan angkatan laut di dekat sekolah tersebut.
Serangan itu terjadi saat militer AS sedang menargetkan fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berada tidak jauh dari lokasi sekolah.
Menurut sumber yang mengetahui penyelidikan awal tersebut, Komando Pusat militer AS atau United States Central Command (CENTCOM) membuat koordinat target serangan menggunakan data lama yang disediakan oleh Defense Intelligence Agency (DIA).
Informasi yang sudah tidak diperbarui itu diduga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan serangan mengenai sekolah dasar tersebut.
"Insiden ini sedang diselidiki; untuk komentar lebih lanjut kami menyerahkannya kepada Pentagon," kata juru bicara DIA kepada CNN, dilansir Kamis (12/3/2026).
Sementara itu, juru bicara CENTCOM juga menolak memberikan komentar terkait temuan awal tersebut karena investigasi masih berlangsung.
Beberapa sumber mengatakan kepada CNN bahwa hasil penyelidikan awal sejalan dengan indikasi yang semakin jelas dalam beberapa hari terakhir, yakni serangan tersebut dilakukan oleh militer AS.
Citra satelit lama menunjukkan bahwa sekolah dan pangkalan IRGC tersebut dulunya berada dalam satu kompleks yang sama.
Gambar satelit dari 2013 memperlihatkan kedua fasilitas tersebut masih menjadi bagian dari satu area. Namun pada 2016, citra baru menunjukkan bahwa sebuah pagar telah dibangun untuk memisahkan sekolah dari area pangkalan militer, serta dibuat pintu masuk terpisah bagi sekolah tersebut.
Citra dari Desember 2025 bahkan memperlihatkan puluhan orang berada di halaman sekolah yang tampak sedang bermain atau beraktivitas.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Rabu bahwa dirinya tidak mengetahui laporan media mengenai kemungkinan tanggung jawab AS atas serangan mematikan tersebut.
"Saya tidak tahu tentang itu."
Sebelumnya Trump sempat menyatakan bahwa Iran mungkin saja bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun ketika ditanya mengapa tidak ada pejabat pemerintahannya yang mendukung klaim itu secara terbuka, ia menjawab "Karena saya memang belum tahu cukup banyak tentang hal itu."
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan penyelidikan masih berlangsung.
"Seperti yang diakui New York Times dalam laporannya sendiri, penyelidikan masih berlangsung," katanya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Selasa mengatakan serangan tersebut akan diselidiki secara menyeluruh.
"Serangan ini akan diselidiki secara menyeluruh," katanya, sambil menambahkan bahwa AS telah "berusaha dengan segala cara untuk menghindari korban sipil".
Ia justru menuduh Iran melakukan serangan yang menargetkan warga sipil tanpa pandang bulu.
Bukti Video dan Analisis Senjata
Video yang berhasil dilokalisasi oleh CNN menunjukkan rekaman serangan yang diambil dari sebuah lokasi konstruksi di dekatnya. Video tersebut dirilis oleh kantor berita Iran, Mehr News Agency.
Rekaman tersebut memperlihatkan sebuah amunisi yang menurut para ahli konsisten dengan rudal jelajah BGM atau UGM-109 Tomahawk Land Attack Missile (TLAM) buatan Amerika Serikat menghantam lokasi di dalam pangkalan IRGC pada 28 Februari.
Ketika kamera kemudian bergerak ke arah kanan, terlihat kepulan asap besar dari arah sekolah Shajareh Tayyiba.
Pejabat Iran mengatakan mereka menemukan serpihan rudal dari lokasi serangan mematikan tersebut.
Analisis CNN sebelumnya menemukan bahwa fragmen yang ditemukan tampaknya berasal dari rudal jelajah Tomahawk buatan AS.
Empat foto serpihan tersebut dibagikan melalui Telegram oleh penyiar negara Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB). Foto tersebut disertai keterangan bahwa fragmen itu merupakan sisa-sisa rudal dari serangan tersebut.
Namun belum dapat dipastikan apakah fragmen itu berasal dari serangan yang menghantam sekolah, dari serangan terhadap pangkalan angkatan laut IRGC di dekatnya, atau dari lokasi lain.
Meski demikian, hasil analisis CNN dan sejumlah pakar persenjataan menunjukkan fragmen tersebut konsisten dengan rudal Tomahawk buatan AS.
Rudal jelajah tersebut diproduksi oleh kontraktor pertahanan AS Raytheon dan hanya dimiliki oleh sejumlah kecil sekutu AS yang mendapat izin khusus untuk membelinya.
Bahkan Israel, salah satu sekutu paling dekat Washington, tidak memiliki rudal tersebut. Sejumlah pakar persenjataan juga menegaskan kepada CNN bahwa Iran tidak memiliki sistem senjata tersebut.
(luc/luc) Add
source on Google