MARKET DATA
Internasional

Arab 'Babak Belur', Apakah Akan Ikut AS-Israel Perangi Iran?

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
11 March 2026 20:00
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz bertemu dengan Presiden China, Xi Jinping (tidak terlihat) di Istana Yamamah di Riyadh, Arab Saudi pada 08 Desember 2022. Presiden China Jinping berada di Arab Saudi untuk menghadiri KTT Negara-negara China-Arab dan Konferensi Tingkat Tinggi KTT Dewan Kerjasama Teluk-China (GCC). (File Foto - Royal Court of Saudi Arabia/Anadolu Agency via Getty Images)
Foto: Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz (File Foto - Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency)

Jakarta, CNBC Indonesia -  Eskalasi konflik di Timur Tengah kini berada di titik nadir yang mengancam stabilitas global. Meski terus dihujani rudal dan drone dari Iran, negara-negara Teluk hingga saat ini terpantau masih mengambil posisi defensif demi mencegah terseret ke dalam pusaran perang yang dimulai usai Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Teheran, 28 Februari.

Negara-negara sekutu kaya AS yang selama ini dianggap sebagai "tempat aman di wilayah bergejolak", kini mulai merasakan dampak langsung. Infrastruktur kritis, pangkalan militer, hingga fasilitas energi mereka sekarang menjadi target serangan balasan Iran seiring meluasnya cakupan peperangan di kawasan.

Ibu kota negara-negara Teluk secara resmi telah merilis pernyataan publik yang menegaskan bahwa mereka tidak mengambil bagian dalam operasi militer apa pun terhadap Iran. Mereka juga memastikan bahwa wilayah kedaulatan mereka tidak digunakan sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan.

Lalu apakah Arab akan ikut perang?

Para analis menilai negara-negara kaya minyak ini secara kolektif bertaruh untuk "tetap berada di luar konflik". Mereka berhitung bahwa "biaya keterlibatan langsung akan jauh lebih tinggi dan merusak dibandingkan dengan menahan diri", meskipun tekanan untuk bergabung dalam koalisi perang terus meningkat.

Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, misalnya. Ia menjelaskan bahwa serangan Iran menimbulkan tantangan yang sangat signifikan dan multifaset bagi negara-negara di kawasan tersebut.

Hal itu, tidak hanya mengancam sektor ekonomi. Tetapi juga tatanan sosial dan sistem pertahanan mereka.

"Ini menantang ekonomi mereka. Ini menantang masyarakat mereka. Ini menantang infrastruktur kritis mereka. Ini menantang sistem pertahanan mereka," ujar Jacobs kepada AFP, dikutip Rabu (11/3/2026).

Salah satu insiden terbaru yang memicu kekhawatiran adalah serangan drone Iran terhadap Bahrain yang merusak instalasi desalinasi air. Fasilitas tersebut merupakan infrastruktur vital bagi ekonomi negara sekaligus sumber utama air minum bagi penduduk setempat.

Jacobs menambahkan bahwa sikap negara-negara Teluk terhadap serangan Iran saat ini masih bisa digambarkan sebagai posisi defensif. Menurutnya, terlibat langsung dalam perang terbuka tetap menjadi skenario terburuk yang sangat mereka hindari.

"Postur negara-negara Teluk saat ini vis-a-vis serangan Iran masih dapat digambarkan sebagai defensif. Ini tetap menjadi skenario mimpi buruk mereka," tegas Jacobs.

Ketegangan Diplomatik

Ketegangan diplomatik juga mulai menyeruak ke permukaan. Pekan lalu, Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani melontarkan kritik tajam dengan menuduh Iran sengaja menyeret tetangga-tetangganya di Teluk ke dalam konflik yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan mereka.

"Iran menyeret tetangga Teluknya ke dalam perang yang bukan milik mereka," kata Al Thani.

Senada dengan Qatar, Uni Emirat Arab (UEA) juga memilih untuk menjaga jarak dari konflik tersebut. Pemerintah UEA menekankan komitmennya untuk tidak terlibat dalam tindakan ofensif apa pun yang ditujukan kepada wilayah Iran guna menghindari eskalasi yang lebih luas.

Duta Besar UEA untuk PBB di Jenewa, Jamal Al Musharakh, menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki keinginan untuk terjebak dalam pusaran konflik. Pihaknya berupaya keras agar tidak terseret ke dalam ketegangan yang terus meningkat.

"UEA tidak berupaya untuk terseret ke dalam konflik atau eskalasi," ungkap Al Musharakh.

Menahan Diri "Perang Israel"

Pakar keamanan dari King's College London, Andreas Krieg, merangkum pendekatan yang diambil negara-negara Teluk sebagai strategi "menahan diri dan bertahan". Meskipun menjadi tuan rumah bagi beberapa pangkalan militer AS, mereka enggan dijadikan alat dalam upaya perang Israel.

Meskipun ada AS, sebagian analis menilai ini adalah perang kepentingan Israel di Timur Tengah. Sebelumnya dalam sebuah rapat tertutup setelah serangan 28 Februari, pejabat Trump sempat berujar perang terjadi karena Israel terancam.

Menurut Krieg, negara-negara Teluk berhitung bahwa partisipasi ofensif secara terbuka hanya akan memberikan keuntungan militer yang terbatas. Sebaliknya, risiko politik dan ekonomi yang harus dibayar akan sangat mahal bagi stabilitas domestik mereka.

"Negara-negara Teluk tidak ingin tersedot ke dalam upaya perang Israel, dan mereka mengkalkulasi bahwa partisipasi ofensif secara terang-terangan hanya akan memberikan keuntungan militer terbatas dengan harga politik dan ekonomi yang sangat tinggi," jelas Krieg.

Diversifikasi Ekonomi yang Terancam

Sementara itu, bagi Arab Saudi dan Abu Dhabi misalnya, perang ini menimbulkan banyak kekhawatiran. Bukan hanya soal target pada infrastruktur energi, tetapi juga ancaman terhadap proyek diversifikasi ekonomi.

Perang ini dianggap mempertaruhkan ambisi mereka untuk menarik wisatawan dan modal asing ke kawasan. Selain itu, konflik ini menguji arsitektur keamanan yang telah mengikat negara-negara Teluk dengan Washington selama puluhan tahun.

"Kemitraan historis minyak untuk keamanan antara Riyadh dan AS kini mulai dipertanyakan efektivitasnya di tengah hujan serangan udara," tulis AFP.

Frustrasi terhadap kebijakan Amerika Serikat pun mulai disuarakan oleh tokoh-tokoh berpengaruh di kawasan. Pengusaha miliarder Khalaf al-Habtoor sempat mengecam Washington melalui unggahan di media sosial karena dianggap telah menyeret kawasan tersebut ke ambang peperangan 

(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Diam-Diam AS Sudah Tebar Rudal & Jet Tempur di Arab 'Kepung' Iran


Most Popular
Features