MARKET DATA

Purbaya Ungkap Perang Iran-AS Bisa Tekan Ekonomi RI Lewat Jalur Ini

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
11 March 2026 14:03
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Maret 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kementerian Keuangan RI)
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Maret 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kementerian Keuangan RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui, konflik bersenjata yang meletus antara Amerika Serikat-Israel dan Iran bisa menekan aktivitas ekonomi Indonesia melalui berbagai jalur.

Ia menyebut, jalur rambatan dari perang di Timur Tengah itu ke dalam negeri sangat banyak, dan terus diwaspadai pemerintah perkembangannya.

"Bagi Indonesia dampaknya di transmisikan dari beberapa jalur yang harus kita waspadai," kata Purbaya saat konferensi pers APBN di kantornya, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Jalur risiko rambatan pertama ia sebut melalui perdagangan, seperti kenaikan harga-harga komoditas energi karena konflik itu turut berefek pada tertutupnya Selat Hormuz.

"Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban impor migas dan menekan surplus neraca perdagangan dan neraca pembayaran," tutur Purbaya.

Kedua, melalui jalur pasar keuangan. Ia menyebut konflik itu bisa memicu ketidakpastian yang membuat investor mengambil langkah risk off, sehingga membuat aliran modal keluar dari negara-negara berkembang.

"Ketidakpastian global dapat memicu capital outflow, tekanan pada pasar saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah, serta dapat meningkatkan cost of fund," kata Purbaya.

Ketiga, dari sisi fiskal. Ia menyebut APBN seperti di Indonesia dapat tertekan karena perannya sebagai peredam gejolak alias shock absorber dari potensi ketidakpastian.

"APBN berperan sebagai shock absorber meski menghadapi potensi kenaikan subsidi energi, dan beban bunga utang di tengah peluang windfall profit dari komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel," ujarnya.

(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jelang 1 Tahun Prabowo, Purbaya Yakin Ekonomi Bisa Capai 5,67% di 2025


Most Popular
Features