FOTO Internasional

Gawat! Penampakan Krisis Energi Nyata Dimana-mana Gegara Perang Arab

Reuters, CNBC Indonesia
Rabu, 11/03/2026 11:55 WIB

Krisis energi mulai terasa setelah Iran menutup Selat Hormuz usai serangan AS-Israel. Jalur ini mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.

1/7 Para pengendara mobil mengantre panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, 10 Maret 2026. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Konflik di Timur Tengah memicu krisis energi global setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Menyusul tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, Teheran menutup Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia serta distribusi LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab—sehingga mengganggu rantai pasok energi global. Kekhawatiran atas ketersediaan bahan bakar pun meningkat, terlihat dari antrean panjang kendaraan di sebuah stasiun pengisian bahan bakar di Dhaka, Bangladesh, Selasa (10/3/2026). (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

2/7 Para pengendara mobil mengantre panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, 10 Maret 2026. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Langkah ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan Iran sejak dimulainya konflik dengan Israel pada 1979. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia, yang menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

3/7 Para pengendara mobil mengantre panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, 10 Maret 2026. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Seorang petugas pengiriman membawa tabung LPG dengan sepeda, setelah gangguan pasokan menyusul konflik AS-Israel dengan Iran, di New Delhi, India. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

4/7 Para pengendara mobil mengantre panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, 10 Maret 2026. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Produk Liquefied Natural Gas (LNG) yang dikirimkan melalui kapal juga menggunakan Selat Hormuz sebagai jalur transportasi strategis. Utamanya, sebanyak 20% pasokan LNG dunia dari UAE dan Qatar melewati Selat Hormuz akan terganggu. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

5/7 Para pengendara mobil mengantre panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, 10 Maret 2026. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Antrean panjang terlihat di sebuah SPBU di Hanoi, Vietnam, mencerminkan krisis energi yang mulai dirasakan negara-negara Asia Tenggara, termasuk kawasan tetangga Indonesia. Kondisi ini terjadi setelah Kementerian Perdagangan Vietnam mengimbau pelaku usaha mendorong karyawan bekerja dari rumah guna menghemat bahan bakar di tengah gangguan pasokan dan lonjakan harga akibat konflik AS–Israel dengan Iran. (REUTERS/Khanh Vu)

6/7 Para pengendara mobil mengantre panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, 10 Maret 2026. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Selain di Vietnam, kepanikan akibat potensi lonjakan harga juga terlihat di Filipina. Warga bahkan rela mengantre panjang di sejumlah SPBU di Quezon City, Metro Manila, untuk mengisi bahan bakar sebelum kenaikan harga diberlakukan di tengah konflik AS–Israel dengan Iran. (REUTERS/Lisa Marie David)

7/7 Para pengendara mobil mengantre panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, 10 Maret 2026. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)

Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar untuk menekan lonjakan harga akibat perang AS-Israel dengan Iran. Menurut Wall Street Journal, jumlahnya diperkirakan melampaui 182 juta barel yang dirilis pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Usulan itu dibahas dalam rapat darurat 32 negara anggota, dengan keputusan diperkirakan segera diumumkan. (REUTERS/Lisa Marie David)

Add as a preferred
source on Google