Konflik di Timur Tengah memicu krisis energi global setelah AS dan Israel menyerang Iran. Menyusul tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, Teheran menutup Selat Hormuz. Penutupan jalur strategis ini mengancam pasokan sekitar 20% minyak dunia serta distribusi LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab, sehingga mengganggu pasokan energi global. (Foto Diolah via Reuters/Pool)
Para pengendara mobil mengantre panjang di sebuah stasiun pengisian bahan bakar, seiring meningkatnya kekhawatiran atas pasokan bahan bakar di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Dhaka, Bangladesh, Selasa (10/3/2026). (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Langkah ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan Iran sejak dimulainya konflik dengan Israel pada 1979. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia, yang menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Seorang petugas pengiriman membawa tabung LPG dengan sepeda, setelah gangguan pasokan menyusul konflik AS-Israel dengan Iran, di New Delhi, India. (REUTERS/Bhawika Chhabra)
Produk Liquefied Natural Gas (LNG) yang dikirimkan melalui kapal juga menggunakan Selat Hormuz sebagai jalur transportasi strategis. Utamanya, sebanyak 20% pasokan LNG dunia dari UAE dan Qatar melewati Selat Hormuz akan terganggu. (REUTERS/Bhawika Chhabra)
Antrean panjang terlihat di sebuah SPBU di Hanoi, Vietnam, mencerminkan krisis energi yang mulai dirasakan negara-negara Asia Tenggara, termasuk kawasan tetangga Indonesia. Kondisi ini terjadi setelah Kementerian Perdagangan Vietnam mengimbau pelaku usaha mendorong karyawan bekerja dari rumah guna menghemat bahan bakar di tengah gangguan pasokan dan lonjakan harga akibat konflik AS–Israel dengan Iran. (REUTERS/Khanh Vu)
Selain di Vietnam, kepanikan akibat potensi lonjakan harga juga terlihat di Filipina. Warga bahkan rela mengantre panjang di sejumlah SPBU di Quezon City, Metro Manila, untuk mengisi bahan bakar sebelum kenaikan harga diberlakukan di tengah konflik AS–Israel dengan Iran. (REUTERS/Lisa Marie David)
Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar untuk menekan lonjakan harga akibat perang AS-Israel dengan Iran. Menurut Wall Street Journal, jumlahnya diperkirakan melampaui 182 juta barel yang dirilis pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Usulan itu dibahas dalam rapat darurat 32 negara anggota, dengan keputusan diperkirakan segera diumumkan. (REUTERS/Lisa Marie David)