Petani Cengkih Ingatkan Ancaman Harga Anjlok, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pembatasan kadar nikotin dan tar pada produk rokok juga memicu kekhawatiran di kalangan petani cengkih. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menekan industri kretek yang selama ini menjadi pasar utama komoditas cengkeh nasional.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Cengkih Indonesia (APCI) Ketut Budhyman Mudara mengatakan industri kretek merupakan penyerap utama produksi cengkih nasional.
"Produksi cengkih nasional sekitar 120 ribu sampai 140 ribu ton setiap tahun dan hampir seluruhnya diserap oleh industri rokok kretek," kata Ketut dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Jika produksi rokok kretek menurun akibat kebijakan baru, maka dampaknya akan langsung dirasakan oleh petani cengkih.
"Kalau pembatasan kadar tar dan nikotin ini diterapkan, maka produksi rokok bisa turun dan itu berarti mengganggu keberlangsungan hidup petani cengkih," ujarnya.
Ketut mengingatkan bahwa industri kretek memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ekonomi Indonesia. Ia bahkan menyinggung awal mula berkembangnya industri tersebut yang berakar dari inovasi masyarakat lokal.
"Dalam sejarahnya, kretek ditemukan oleh Haji Jamhari di Kudus pada abad ke-19 ketika beliau bereksperimen mencampurkan tembakau dan cengkih," kata Ketut.
Temuan tersebut kemudian berkembang menjadi industri besar yang memberikan manfaat ekonomi luas. Apalagi cengkih merupakan tanaman asli Indonesia yang memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. Ia khawatir kebijakan yang terlalu ketat justru membuat komoditas lokal kehilangan pasar domestiknya.
"Jika aturan ini dipaksakan, maka cengkih yang menjadi bahan utama kretek bisa kehilangan pasar," ujarnya.
Ia pun berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi petani sebelum menerapkan kebijakan baru di sektor tembakau.
"Kami berharap pemerintah lebih bijaksana dalam membuat regulasi sehingga tidak merugikan petani cengkih di seluruh Indonesia," katanya.
(fys/wur) Add
source on Google