MARKET DATA
Internasional

Trump Tiru Taktik "Gila" Putin, AS Mau "Ukrainakan" Iran?

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
11 March 2026 02:00
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan konferensi pers setelah pertemuan mereka untuk merundingkan akhir perang di Ukraina, di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, di Anchorage, Alaska, AS, 15 Agustus 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Foto: Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan konferensi pers setelah pertemuan mereka untuk merundingkan akhir perang di Ukraina, di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, di Anchorage, Alaska, AS, 15 Agustus 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat dan Israel kini tengah melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran yang memicu kekhawatiran global. Namun, di balik deru ledakan di Teheran, para analis mulai melihat pola yang sangat familiar karena strategi yang dijalankan Washington dianggap memiliki kemiripan yang mencolok dengan invasi Vladimir Putin di Ukraina.

Meskipun skalanya berbeda, di mana AS sejauh ini masih membatasi diri pada serangan udara sementara Rusia mengirim pasukan darat besar-besaran, esensi dari konflik ini dianggap serupa. Kedua perang tersebut menunjukkan pergeseran tujuan yang terus berubah, lini masa yang tidak jelas, hingga dalih hukum yang dinilai lemah oleh para pakar internasional.

Awalnya, Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan semata-mata untuk mencegah rezim tersebut memperoleh senjata nuklir dan melemahkan jaringan proksinya. Namun, seiring berjalannya waktu, ambisi Washington melonjak drastis menjadi upaya penggulingan kekuasaan secara total.

Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka telah menyatakan bahwa kepemimpinan Iran harus segera diganti demi stabilitas kawasan. Ia bahkan tidak ragu untuk menuntut penyerahan diri secara total dari pihak Teheran dalam waktu dekat.

"Kepemimpinan Iran harus diganti. Tehran harus melakukan penyerahan diri tanpa syarat," tegas Donald Trump dalam pernyataan terbarunya mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pola perubahan narasi ini persis seperti yang dilakukan Kremlin saat pertama kali menyerang Ukraina pada Februari 2022. Kala itu, Putin beralasan ingin melakukan demiliterisasi, namun kemudian narasinya berubah menjadi perlindungan terhadap warga penutur bahasa Rusia di wilayah timur.

Kemiripan ini bahkan masuk ke ranah bahasa yang digunakan oleh para petinggi militer kedua negara. Baik AS maupun Rusia sama-sama mengeklaim bahwa aksi militer mereka adalah langkah defensif untuk mengakhiri perang yang diklaim dimulai oleh pihak lawan.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan bahwa pihaknya memiliki mandat untuk menyelesaikan kekacauan di Timur Tengah. Ia menegaskan posisi Amerika di bawah kepemimpinan Donald Trump saat ini.

"Kami tidak memulai perang ini, tetapi di bawah Presiden Trump, kami akan menyelesaikannya," ujar Pete Hegseth dalam pengarahannya pekan lalu.

Ucapan tersebut hampir identik dengan apa yang disampaikan Vladimir Putin di awal invasi Ukraina. Pemimpin Rusia itu juga mengeklaim hal yang sama untuk membenarkan tindakan militernya di depan rakyat Rusia dan dunia internasional.

"Kami tidak memulai apa yang disebut perang di Ukraina ini. Kami hanya mencoba untuk mengakhirinya," kata Vladimir Putin pada Februari 2022 silam.

Selain kesamaan retorika, kedua pemimpin juga menunjukkan gejala meremehkan durasi konflik. Putin mengira Kyiv akan jatuh dalam hitungan minggu, sementara Trump merasa percaya diri setelah kesuksesan operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, awal tahun ini.

Bahkan, kedua pemerintahan sama-sama enggan menggunakan istilah "perang" untuk mendeskripsikan aksi mereka. Jika Rusia menggunakan istilah Operasi Militer Khusus, pejabat tinggi di Washington lebih suka menyebutnya sebagai operasi yang terbatas.

Ketua DPR AS, Mike Johnson, menepis anggapan bahwa Amerika Serikat saat ini tengah terjebak dalam perang skala penuh dengan Iran. Ia bersikeras bahwa apa yang terjadi saat ini hanyalah langkah taktis yang terukur.

"Saya pikir ini adalah sebuah operasi yang terbatas," kata Mike Johnson saat ditanya mengenai status serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

Ironisnya, dukungan politik di dalam negeri Amerika Serikat juga mulai mengikuti pola Rusia, di mana para elit politik yang awalnya kritis perlahan mulai memberikan dukungan dengan alasan nasionalisme. Bahkan kritikus Trump seperti Michael McFaul mengakui dilema tersebut.

"Begitu presiden kita membuat keputusan untuk berperang, bahkan ketika saya tidak setuju dengan keputusan dan prosesnya-seperti yang terjadi dalam perang kita dengan Iran saat ini-saya tetap ingin angkatan bersenjata kita menang," tulis mantan Duta Besar AS untuk Moskow, Michael McFaul.

Kini, kekhawatiran terbesar adalah apakah Amerika Serikat akan terjebak dalam lubang yang sama dengan Rusia di Ukraina, terutama dengan rencana pengiriman pasukan elite untuk mengamankan cadangan uranium Iran. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa tujuan yang jelas, kesuksesan militer awal bisa berubah menjadi bencana jangka panjang.

Danny Citrinowicz, pengamat dari Atlantic Council, memberikan peringatan keras bahwa ambisi yang tidak realistis akan menyeret Amerika ke dalam perang yang tidak berujung. Ia menekankan pentingnya penetapan target yang terukur agar tidak terjebak dalam perang atrisi.

"Ketika tujuan strategis menjadi terlalu ambisius atau tidak realistis, bahkan kampanye militer yang sukses pun lambat laun dapat merosot menjadi perang atrisi. Untuk menghindari hasil tersebut, sangat penting untuk menetapkan tujuan yang jelas dan realistis-tujuan yang dapat diukur dan memberikan titik yang jelas di mana kampanye dapat berakhir," pungkas Citrinowicz dikutip The Guardian.

(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Zelensky Ngamuk, 300 Drone Ukraina Tembak Rusia


Most Popular
Features