MARKET DATA

Harga Minyak Tembus US$100/Barel, Awas APBN RI Tekor Banyak!

haa,  CNBC Indonesia
09 March 2026 09:39
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat mengikuti Sidang Debottlenecking Membahas Investasi LNG Blok Masela di Jakarta, Selasa (24/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kementerian Keuangan RI)
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat mengikuti Sidang Debottlenecking Membahas Investasi LNG Blok Masela di Jakarta, Selasa (24/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kementerian Keuangan RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia tercatat meningkat tajam hingga menembus level US$100 per barel. Kenaikan tajam ini dipicu oleh gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik Iran yang membuat Selat Hormuz masih ditutup.

Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 18,98% atau US$17,25 menjadi US$108,15 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent naik 16,19% atau US$15,01 ke level US$107,70 per barel.

Dari catatan tim riset CNBC Indonesia, lonjakan ini memperpanjang reli harga minyak setelah pekan lalu minyak mentah AS tercatat melonjak sekitar 35%, yang disebut sebagai kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan futures sejak 1983.

Analis teknikal Reuters memperkirakan lonjakan harga bahkan dapat menembus kisaran US$120 hingga US$128 atau sekitar Rp2.16 juta per barel dalam waktu dekat.

Melansir laporan analis Reuters Wang Tao, kontrak minyak Brent Crude Oil berpotensi melonjak ke kisaran US$120,22 hingga US$128,26 per barel. Proyeksi tersebut muncul setelah harga Brent menembus area resistensi penting di US$105,43 hingga US$108,48 dan membentuk celah kenaikan (runaway gap) kedua pada perdagangan Senin.

Ini menjadi alarm bagi pemerintah. Pasalnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan jika tekanan harga minyak mentah dunia meroket ke level US$ 92 per barel akibat perang Iran vs Israel-AS, maka defisit APBN bengkak di atas batas aman, yakni sampai 3,6% PDB.

"Kita sudah exercise kalau harga minyak US$ 92 selama setahun rata-rata, maka defisitnya jadi 3,6% lebih tadi," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Adapun, data Kementerian Keuangan yang dipaparkan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menunjukkan batas aman harga minyak yang bisa ditanggung adalah US$ 80 - US$ 90 per barel.

Lantas, apa yang akan dilakukan pemerintah?

Purbaya mengungkapkan jika harga minyak terus meroket, pemerintah akan melakukan penghematan. "Kalau itu kita akan melakukan langkah-langkah supaya itu tidak terjadi. Bisa penghematan dimana? Misalnya penghematan di MBG," tegasnya.

Meski begitu, Purbaya memastikan, penghematan anggaran MBG tidak akan menyentuh pagu anggaran untuk fungsi utamanya, yakni terkait pemberian makanan kepada anak sekolah, ibu hamil, hingga lansia.

Sedangkan anggaran lain, seperti anggaran pengadaan barang, akan menjadi objek penghematan alias dipangkas anggarannya bila defisit membengkak efek kenaikan harga minyak ketimbang menaikkan harga BBM bersubsidi.

"Yang jelas MBG programnya bagus tapi kita ingin cegah kalau ada belanja yang tidak terlalu mendukung langsung makanan itu. Yang lain-lain misalnya beli motor, seluruh SPPG-nya diganti motornya, mereka senang saya rugi. Terus misalnya lagi beli komputer seluruh SPPG dikasih komputer," tegasnya.

Selain anggaran MBG yang akan dihemat bila terjadi pembengkakan defisit APBN, Purbaya mengaku juga akan memangkas anggaran proyek infrastruktur yang bisa dikerjakan tahun jamak.

"Misalnya lagi Kementerian PU. Mungkin ada belanja-belanja yang bisa digeser ke tahun depan. Macam-macam program yang mereka punya kan, jembatan, ada sekolah," ujar Purbaya.

Sebagaimana diketahui, anggaran MBG sendiri pada tahun ini mencapai Rp 335 triliun dengan target penerima 82,9 juta. Nilai anggaran ini naik dibanding 2025 yang sebesar Rp 71 triliun dengan target 17,9 juta penerima.

(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ada Apa dengan Emas? Harga Kini Terbang Tinggi, Terus Naik Hingga 2026


Most Popular
Features