MARKET DATA
Internasional

Iran Tiba-Tiba "Memanas" dari Dalam, Elite Resah soal Sikap Presiden

luc,  CNBC Indonesia
08 March 2026 07:00
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Iranian Presidency / AFP)
Foto: Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Iranian Presidency / AFP)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan perang yang makin intens dari Amerika Serikat dan Israel kini tidak hanya mengguncang militer Iran, tetapi juga memicu keretakan serius di dalam lingkaran kekuasaan tertinggi negara tersebut. Indikasi perpecahan antara kelompok garis keras dan faksi yang lebih pragmatis mulai terbuka ke publik, terutama setelah polemik terkait pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian mengenai negara-negara Teluk.

Ketegangan di kalangan elite Iran makin terlihat jelas setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer sepekan lalu. Selama puluhan tahun, perbedaan pandangan di antara kelompok elite biasanya dapat ditekan oleh kepemimpinan kuat Khamenei. Namun kematiannya membuka ruang bagi perdebatan internal yang selama ini tertahan.

Konflik yang meningkat dengan AS dan Israel juga memperbesar tekanan terhadap Republik Islam Iran. Serangan udara yang terus berlangsung dinilai mengancam kelangsungan sistem politik Iran, sehingga mendorong kelompok paling militan dalam struktur negara, yakni Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), untuk mengambil peran lebih besar dalam menentukan strategi perang.

Padahal, militer elit tersebut juga tengah terpukul oleh kampanye serangan yang menargetkan para petinggi mereka. Sejumlah komandan tinggi dilaporkan tewas dalam operasi militer yang dilakukan AS dan Israel.

Sejumlah sumber yang dekat dengan kepemimpinan Iran mengatakan kepada Reuters bahwa tekanan tersebut mulai menimbulkan ketegangan di antara para tokoh utama yang masih bertahan setelah rangkaian pembunuhan dalam serangan militer.

Polemik Pernyataan Presiden

Salah satu tanda paling jelas dari perpecahan internal muncul setelah Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk atas serangan yang berlangsung selama sepekan ke wilayah mereka. Ia juga berjanji untuk menahan diri dari serangan serupa di masa depan.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari kelompok garis keras di kalangan Garda Revolusi maupun elite ulama. Tekanan yang muncul akhirnya memaksa Pezeshkian untuk sedikit mundur dari sikap awalnya.

Dalam salah satu kritik paling terbuka terhadap presiden, ulama garis keras sekaligus anggota parlemen Hamid Rasai menyampaikan kecamannya melalui media sosial.

"Sikap Anda tidak profesional, lemah, dan tidak dapat diterima," tulis Rasai, menegur sikap presiden.

Tak lama kemudian, ketika Pezeshkian kembali mengunggah pernyataan serupa di media sosial, ia tidak lagi menyertakan permintaan maaf yang sebelumnya memicu kemarahan para tokoh garis keras. Langkah itu dipandang sebagai bentuk mundur yang cukup memalukan di tengah tekanan internal.

Meski demikian, para tokoh senior dalam struktur kekuasaan Iran tetap menunjukkan kesatuan sikap dalam mempertahankan Republik Islam dari serangan AS dan Israel. Perpecahan yang muncul lebih berkaitan dengan pendekatan strategis dalam menghadapi konflik.

Dua sumber senior mengatakan bahwa selama ini pemerintah Iran memang terkadang menonjolkan perbedaan antara kelompok moderat dan garis keras sebagai taktik diplomasi dalam bernegosiasi dengan Barat. Namun dalam kasus pernyataan Pezeshkian, perbedaan yang muncul kali ini dianggap mencerminkan ketegangan nyata.

Seorang tokoh garis keras yang dekat dengan kantor Khamenei mengatakan kepada Reuters bahwa komentar presiden telah membuat banyak komandan senior Garda Revolusi marah.

Sementara itu, seorang sumber Iran lainnya yang merupakan mantan pejabat moderat menilai tidak ada figur yang benar-benar mampu menggantikan Khamenei. Ia menggambarkan pemimpin yang baru wafat itu sebagai seorang ahli strategi tangguh yang berhasil memimpin Iran melewati berbagai krisis berat selama bertahun-tahun.

Kepemimpinan Baru

Di tengah meningkatnya kecemasan di kalangan elite politik Iran, para ayatollah senior kini mendorong percepatan penunjukan pemimpin tertinggi yang baru.

Badan ulama yang bertanggung jawab memilih pemimpin tertinggi bahkan dilaporkan sedang mempercepat prosesnya, dengan keputusan kemungkinan diambil pada Minggu. Meski demikian, belum jelas apakah pengganti Khamenei nantinya memiliki otoritas yang cukup kuat untuk meredam konflik antar faksi.

Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, disebut sebagai salah satu kandidat terkuat. Ia diyakini mendapat dukungan dari Garda Revolusi serta jaringan kuat dari kantor ayahnya.

Namun posisinya tidak sepenuhnya aman. Mojtaba dianggap masih relatif muda dibandingkan banyak ayatollah senior Iran, serta dinilai belum teruji secara politik. Selain itu, ia juga disebut telah membuat sebagian kalangan moderat di dalam sistem kekuasaan merasa tidak nyaman.

Kandidat lain yang mungkin muncul juga diperkirakan akan menghadapi tantangan dalam mempertahankan loyalitas penuh dari Garda Revolusi, yang merupakan elemen penting dalam menjaga stabilitas sistem politik Iran.

Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute, mengatakan bahwa situasi perang cenderung memperjelas siapa yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan.

"Masa perang cenderung memperjelas struktur kekuasaan, dan dalam kasus ini suara yang menentukan bukanlah suara kepemimpinan sipil melainkan suara IRGC," ujarnya.

Ketegangan di Tubuh Kepemimpinan

Sistem politik Iran memiliki struktur yang unik. Presiden, pemerintah, dan parlemen yang dipilih melalui pemilu berada di bawah otoritas seorang ayatollah yang ditunjuk oleh lembaga ulama sebagai pemimpin tertinggi.

Pemimpin tertinggi memiliki kewenangan terbesar dalam negara, termasuk mengawasi langsung Garda Revolusi serta berbagai institusi penting lainnya.

Selama 36 tahun memimpin, Khamenei kerap memainkan keseimbangan antara kelompok garis keras dan moderat dalam sistem kekuasaan Iran. Ia membiarkan kedua kubu menyampaikan perbedaan pandangan, tetapi tetap memegang keputusan akhir.

Setelah kematiannya, kepemimpinan sementara secara formal diserahkan kepada sebuah dewan transisi yang terdiri dari Presiden Pezeshkian, kepala lembaga peradilan yang juga seorang ulama, serta satu ulama lain dari Dewan Garda.

Namun tanpa figur Khamenei, ketegangan bahkan mulai terlihat di dalam badan kepemimpinan sementara tersebut.

Kepala lembaga peradilan Iran yang dikenal sebagai tokoh garis keras, Ayatollah Gholamhossein Mohseni-Ejei, secara terbuka menyatakan bahwa beberapa negara di kawasan telah mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Ia juga menegaskan bahwa serangan balasan akan terus dilakukan.

"Serangan besar-besaran terhadap target-target tersebut akan terus berlanjut," katanya, pernyataan yang secara jelas bertentangan dengan nada lebih moderat dari presiden.

 

(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Nyatakan Perang Skala Penuh Lawan AS-Israel Cs


Most Popular
Features