58% Furnitur Made in RI Terjual ke AS, Perang Iran Tak Ngefek?
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah mulai dirasakan dampaknya oleh industri furnitur Indonesia. Gangguan jalur pelayaran, khususnya di sekitar Selat Hormuz, berpotensi mendorong lonjakan biaya logistik secara signifikan.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur, mengakui jalur perdagangan global sangat bergantung pada kawasan tersebut.
"Traffic dunia itu lewatnya Timur Tengah. Kalau Selat Hormuz ditutup, kapal pasti mencari jalur yang lebih jauh," ujarnya dalam konferensi pers Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di ICE BSD, Kamis (5/3/2026).
Ia memperkirakan biaya pengiriman bisa melonjak tajam jika kapal harus memutar melalui rute alternatif seperti Afrika.
"Kemungkinan bisa lebih dari dua kali lipat. Hari pertama saja sudah naik 50 persen. Tergantung kondisi di lapangan," katanya.
Kenaikan biaya bahan bakar dan risiko operasional akan langsung dibebankan kepada pemilik barang.
"Namanya pemilik kapal nggak mau rugi. Kalau harus muter lebih jauh, butuh bahan bakar lebih banyak, itu pasti dibebankan ke pemilik barang," jelas Sobur.
Selain ongkos kirim, persoalan asuransi juga menjadi perhatian serius. Juju menilai klausul perlindungan perang sering kali tidak tercakup dalam polis standar.
"Coverage insurance itu tidak meng-cover yang berhubungan dengan perang. Ini yang menurut saya perlu dicermati oleh eksibitor dan buyer," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pelaku usaha membaca detail klausul asuransi sebelum melakukan transaksi di tengah situasi global yang tidak menentu.
"Masalah asuransi dan risiko perang ini yang sekarang value-nya mahal. Harus benar-benar dipastikan dalam kontrak," katanya.
Meski begitu, HIMKI tetap optimistis target pertumbuhan ekspor dapat dicapai karena pasar utama berada di luar kawasan konflik.
"Target market kita bukan di Middle East. 58 persen ke Amerika Serikat. Di sana relatif tidak ada perang," ujar Sobur.
Industri tetap membidik pertumbuhan rata-rata 12 persen per tahun hingga 2030 dengan target ekspor menembus US$5-6 miliar.
"Kalau perang ini tidak berlangsung lama, kita optimis road map tetap berjalan. Pasar dunia furnitur itu US$700 miliar dan terus tumbuh," sebut Sobur.
source on Google [Gambas:Video CNBC]