Ancaman Perang di Depan Mata, Ini Dampak Ngerinya Bagi Pasokan BBM RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat perang antara Iran-Israel yang melibatkan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi domestik. Terlebih, Indonesia belum memiliki cadangan penyangga energi atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang dimiliki sejumlah negara maju.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai ketahanan energi Indonesia masih tergolong rentan karena tingginya ketergantungan terhadap impor minyak. Hal ini menjadi salah satu penyebab potensi kelangkaan BBM ketika terjadi krisis energi global.
Bhima menjelaskan cadangan energi Indonesia saat ini relatif terbatas, sehingga ketika terjadi gejolak dampaknya bisa langsung dirasakan pada ketersediaan BBM di dalam negeri. Namun rencana untuk meningkatkan cadangan energi dari sekitar 20 hari menjadi tiga bulan bukanlah solusi utama.
"Cadangan energi Indonesia rentan. itu kenapa krisis minyak bisa picu stok BBM langka. Tapi solusi menambah cadangan dari 20 hari jadi 3 bulan bukan solusi," kata Bhima kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/3/2026).
Menurut dia, memperbesar kapasitas penyimpanan atau storage hanya akan memperbesar cadangan, namun tidak menyelesaikan masalah. Pasalnya, Indonesia masih akan sangat bergantung pada impor minyak.
"Opsinya justru percepatan elektrifikasi di sistem transportasi dan transisi energi. Transportasi publik pakai bus listrik di semua daerah, kendaraan pribadi bbm nya diturunkan. Yang penting transport publiknya murah dan nyaman, orang bergeser juga," kata dia.
Terpisah, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan secara umum negara-negara di dunia memiliki cadangan penyangga energi rata-rata antara tiga hingga enam bulan untuk menghadapi potensi gangguan pasokan global.
Negara-negara maju bahkan memiliki stockpile energi yang lebih besar. Namun, pembentukan cadangan energi dalam jumlah besar tidak hanya berkaitan pada saat menghadapi krisis, tetapi juga menyangkut kapasitas fiskal dan kesiapan infrastruktur suatu negara.
"Idealnya dalam konteks ini kan melibatkan multiaspek tidak hanya ideal supaya gak krisis tetapi ideal dalam konteks kemampuan fiskalnya ada gak gitu. Terus kemudian infrastrukturnya siap atau tidak nah ini kan ideal ideal di dalam konteks ini antara 1 negara dengan negara yang lain belum tentu sama," ujar Komaidi.
Komaidi pun memerinci biaya untuk menyimpan cadangan BBM tergolong sangat besar. Sebagai gambaran, untuk stok BBM selama satu hari saja, dibutuhkan alokasi anggaran sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.
Artinya, jika Indonesia ingin memiliki cadangan energi selama 30 hari, maka kebutuhan anggarannya bisa mencapai sekitar Rp60 triliun hingga Rp90 triliun hanya untuk biaya penyimpanan dan nilai barangnya.
"Sekarang kita kan punya 20-25 hari itu pun stok yang bukan dimiliki negara tapi stok operasional badan usaha yang inventori belum terjual dan ini bagi badan usaha kan sebelumnya berat kalau harus membiarkan uangnya mengendap di situ dalam jangka waktu yang cukup panjang," kata Komaidi.
(pgr/pgr) Add
source on Google