MARKET DATA
Internasional

Trump-Xi Jinping Bertemu, China Deal Beli 'Grosir' Minyak AS

tps,  CNBC Indonesia
16 May 2026 11:30
Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China bakal mendongkrak impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) secara besar-besaran karena kedua raksasa ekonomi dunia tersebut dinilai sebagai mitra dagang yang saling melengkapi di sektor energi. Langkah strategis ini diambil di tengah guncangan hebat pasokan energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Sebagai importir minyak terbesar di dunia, China dinilai sangat cocok berpartner dengan AS yang saat ini memegang status sebagai produsen minyak terbesar global. Kerja sama ini menjadi solusi logistik yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

"Ada perdagangan energi yang alami di sana," ujar Menteri Energi AS Chris Wright kepada Brian Sullivan dari CNBC dalam sebuah wawancara di Port Arthur, Texas pada Jumat (15/05/2026).

Selama ini, Beijing sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Namun, jalur ekspor dari Teluk Persia terpangkas hampir seluruhnya selama bermenit-menit dan berminggu-minggu akibat aksi blokade total yang dilakukan Iran di Selat Hormuz. Beruntung, China memiliki cadangan strategis dalam jumlah raksasa yang membantu negara tersebut bertahan dari gangguan pasokan sejauh ini.

Akibat tersumbatnya jalur logistik utama di Timur Tengah tersebut, aliran pengiriman minyak internasional kini mulai bergeser secara masif menuju wilayah barat. AS diproyeksikan bakal menjadi tumpuan baru bagi pemenuhan energi Negeri Tirai Bambu.

"Saya menduga kita akan melihat pertumbuhan dalam impor minyak mereka dari Amerika Serikat," kata Wright.

Dalam jangka panjang, China bersama para pembeli lain di kawasan Asia juga diprediksi akan memperluas pembelian minyak mereka hingga ke wilayah Alaska, seiring dengan ambisi pemerintahan Presiden Donald Trump yang terus memacu produksi minyak di sana. Namun untuk saat ini, Beijing akan fokus meningkatkan volume impor minyak mereka dari kawasan Pantai Teluk AS terlebih dahulu.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga mengonfirmasi bahwa China telah menyetujui kesepakatan besar untuk mengamankan pasokan energi dari negaranya. Kendati demikian, hingga saat ini pihak Beijing sendiri belum memberikan konfirmasi resmi mengenai keberadaan kesepakatan tertulis tersebut.

"Mereka telah sepakat bahwa mereka ingin membeli minyak dari Amerika Serikat, mereka akan pergi ke Texas, kita akan mulai mengirim kapal-kapal China ke Texas, ke Louisiana, dan ke Alaska," tutur Trump saat berbicara kepada Fox News seusai menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping dalam rangkaian KTT di Beijing pekan ini.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz diperkirakan bakal mengubah peta logistik energi dunia secara permanen. Wright menilai kepentingan dan pengaruh jalur pelayaran kritis tersebut akan merosot tajam akibat tindakan sepihak dari Teheran.

"Ini adalah kartu yang hanya bisa Anda mainkan sekali," ucap Wright mengomentari aksi Iran yang melumpuhkan selat tersebut.

Mengutip laporan Reuters, sekitar 20% dari total pasokan minyak dunia terpantau mengalir melalui Selat Hormuz sebelum AS dan Israel meluncurkan serangan militer ke Iran pada 28 Februari lalu. Blokade balasan yang dilancarkan Iran di jalur laut tersebut langsung memicu gangguan pasokan energi terbesar sepanjang sejarah modern, sekaligus memukul mundur perekonomian negara-negara Arab di kawasan Teluk.

Guna mengantisipasi dampak jangka panjang dari konflik ini, negara-negara produsen di Teluk Arab dikabarkan mulai menyusun strategi alternatif dengan membangun jaringan pipa baru pasca-perang agar tidak lagi bergantung pada Selat Hormuz. Salah satunya adalah Uni Emirat Arab yang dilaporkan langsung mempercepat proyek pembangunan pipa Barat-Timur baru guna menghindari jalur rawan tersebut.

"Akan ada rute lain bagi energi untuk keluar dari Teluk Persia. Kita akan melihat penurunan pentingnya Selat Hormuz, namun bukan berarti menurunkan pentingnya produksi energi dan pasokan energi dari negara-negara tersebut," pungkas Wright.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Xi Jinping Warning Trump di China, Ada Apa?


Most Popular
Features