Furnitur Impor Kian Serbu Pasar RI-Ekspor Lesu, Pemerintah Bisa Apa?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 05/03/2026 14:15 WIB
Foto: Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika (tiga dari kiri) dalam pembukaan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di ICE BSD, Kamis (5/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri furnitur global masih menunjukkan prospek cerah di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik dunia. Nilai pasar global pada 2025 tercatat mencapai US$736,21 miliar dan diproyeksikan terus tumbuh dalam satu dekade ke depan.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan tren ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pemain utama furnitur dunia.

"Berdasarkan data Precedence Research, nilai pasar furnitur global tahun 2025 tercatat sebesar 736,21 miliar dolar AS dan diproyeksikan tumbuh sebesar 5,2% selama periode 2026 hingga 2034," ujar Putu dalam pembukaan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di ICE BSD, Kamis (5/3/2026).


Di dalam negeri, industri furnitur juga memiliki peran strategis. Pada triwulan IV-2025, sektor ini berkontribusi 1,1% terhadap industri pengolahan nonmigas.

Namun, kinerja perdagangan menunjukkan tekanan. Ekspor furnitur (HS 9401-9403) pada 2025 tercatat US$1,85 miliar, turun sekitar 3% dibandingkan 2024 yang sebesar US$1,91 miliar. Di sisi lain, impor justru naik 6% menjadi US$0,82 miliar.

"Nilai ekspor furnitur tahun 2025 mencapai 1,85 miliar dolar AS atau turun sekitar 3%, sedangkan impor naik menjadi 0,82 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 6%," jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi sinyal penting untuk memperkuat struktur industri nasional agar tidak tergerus produk luar.

"Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan struktur industri furnitur nasional melalui peningkatan produktivitas, efisiensi, modernisasi mesin dan peralatan, serta penguatan daya saing produk," tegasnya.

Momentum perbaikan manufaktur dinilai mendukung langkah tersebut. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia menunjukkan fase ekspansi kuat pada awal 2026.

"PMI S&P Global meningkat dari 52,6 pada Januari menjadi 53,8 pada Februari 2026, tertinggi sejak Maret 2024, dan PMI-BI Triwulan I 2026 diproyeksikan mencapai 53,17," ungkap Putu.

Kemenperin pun mendorong percepatan modernisasi melalui Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri Pengolahan Kayu yang telah berjalan sejak 2022.

"Program ini sudah berlangsung selama empat tahun, diikuti 35 perusahaan dengan total nilai reimburse sebesar Rp26,1 miliar," katanya.

Dari total investasi mesin sebesar Rp199,35 miliar oleh perusahaan peserta, dampaknya dinilai signifikan terhadap kinerja industri.

"Kegiatan ini telah memberikan dampak berupa efisiensi proses sebesar 10,70%, peningkatan mutu 36,28%, dan peningkatan produktivitas sebesar 32,65%," tutup Putu.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: RI Punya Kayu Mahal Seharga Emas Yang Diincar AS-Timur Tengah