FOTO Internasional

Panic Buying BBM Merebak, Antrean SPBU Mengular Panjang

Reuters, CNBC Indonesia
Kamis, 05/03/2026 05:30 WIB

Antrean SPBU mengular di Seoul akibat lonjakan harga minyak imbas perang Iran. Warga khawatir kenaikan berlanjut dan tekan ekonomi.

1/7 Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah SPBU di Seoul, Korea Selatan, 4 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Antrean kendaraan terlihat mengular di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Seoul, Korea Selatan Rabu (4/3/2026), ketika warga berbondong-bondong mengisi tangki di tengah lonjakan harga minyak global akibat perang di Iran. Para pengemudi khawatir harga bahan bakar akan terus merangkak naik dalam beberapa hari ke depan. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

2/7 Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah SPBU di Seoul, Korea Selatan, 4 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Bagi banyak warga, keputusan datang ke SPBU didorong kekhawatiran sederhana: mengisi bahan bakar sebelum harganya semakin mahal. “Saya merasa hari ini mungkin harga bahan bakar termurah untuk sementara waktu, jadi saya datang untuk mengisi tangki saya,” kata Shin Yong-in (70). Ia menilai situasi kali ini berbeda dibanding perang Rusia-Ukraina, terutama setelah muncul laporan bahwa Iran memblokir Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

3/7 Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah SPBU di Seoul, Korea Selatan, 4 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Meski belum terlihat aksi pembelian panik, operator SPBU mengakui antrean lebih panjang dari biasanya. Sejumlah pengemudi mengaku cemas terhadap risiko kenaikan lanjutan, terlebih di tengah ketidakpastian geopolitik dan gejolak nilai tukar. “Kami tidak memproduksi minyak sendiri, dan situasi internasional semakin serius setiap hari,” ujar Lee Kang-suk (72). Ia juga menyoroti pelemahan won terhadap dolar AS yang dinilai memperberat tekanan harga. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

4/7 Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah SPBU di Seoul, Korea Selatan, 4 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Korea Selatan mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyak mentahnya sehingga rentan terhadap gangguan pasokan dan fluktuasi mata uang. Won sempat melemah melewati level 1.500 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam 17 tahun sebelum akhirnya pulih, setelah bank sentral memberi sinyal kesiapan untuk meredam volatilitas berlebihan di pasar. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

5/7 Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah SPBU di Seoul, Korea Selatan, 4 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Sejumlah warga pun meragukan efektivitas bantalan cadangan energi pemerintah. “Saya tidak yakin apakah harus mempercayai pernyataan bahwa negara ini memiliki cadangan minyak mentah sekitar satu tahun, terutama ketika nilai tukar telah naik sekitar 20 won,” kata Yoo Choong-in (58). (REUTERS/Kim Hong-Ji)

6/7 Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah SPBU di Seoul, Korea Selatan, 4 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Analis memperingatkan, perang di Iran dan potensi penutupan Selat Hormuz dapat mendorong harga minyak mentah Brent crude oil menembus 100 dolar AS per barel jika konflik berkepanjangan. Harga Brent sendiri melonjak lebih dari 7% pada Selasa dan menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

7/7 Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah SPBU di Seoul, Korea Selatan, 4 Maret 2026. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Kenaikan harga energi dinilai berisiko menekan inflasi, neraca transaksi berjalan, serta pertumbuhan ekonomi negara berkembang, termasuk Korea Selatan. Goldman Sachs memperkirakan lonjakan Brent dari 70 dolar AS menjadi 85 dolar AS per barel dapat menambah sekitar 0,7 poin persentase inflasi di Asia berkembang, sekaligus memangkas sekitar 0,5 poin persentase pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Add as a preferred
source on Google