Blok Cepu Berhasil Pompa Produksi Minyak Hingga 12.300 Barel
Jakarta, CNBC Indonesia - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan adanya tambahan produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, setelah keberhasilan program perawatan sumur yang dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Keberhasilan ini berasal dari kegiatan Perawatan Sumur (Well Services/WS) pada Sumur Banyu Urip A07 melalui program Water Shut-Off (WSO). Adapun, program ini merupakan upaya untuk mengurangi aliran air yang tidak diinginkan di dalam sumur.
Melalui program tersebut, produksi minyak dari Sumur Banyu Urip A07 tercatat melonjak signifikan. Produksi yang sebelumnya berada di level sekitar 4.800 barel minyak per hari (BPH) melonjak menjadi sekitar 12.300 BPH, atau bertambah sekitar 7.500 BOPD. Jauh melampaui target awal tambahan produksi yang ditetapkan sebesar 1.000 BPH.
Lapangan Banyu Urip selama ini dikenal sebagai tulang punggung produksi minyak nasional. Oleh karena itu, setiap tambahan barel yang dihasilkan dari lapangan ini memiliki dampak strategis dalam menjaga stabilitas pasokan dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Program WSO dilaksanakan untuk menghentikan aliran air yang tidak diinginkan dari zona bawah sumur sehingga sumur dapat menghasilkan proporsi minyak yang lebih tinggi dan mengoptimalkan potensi produksinya.
Metode yang diterapkan meliputi pemasangan bridge plug, re-perforation, serta stimulasi acidizing. Pendekatan teknologi ini terbukti efektif dalam mengoptimalkan potensi sumur eksisting tanpa perlu pengeboran baru, sehingga tambahan produksi dapat diperoleh lebih cepat dan lebih hemat biaya.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat dapat memberikan peningkatan produksi yang signifikan dalam waktu relatif singkat.
"Ini adalah bukti bahwa optimalisasi sumur eksisting dapat secara langsung mendorong peningkatan lifting minyak nasional," ujar Djoko dalam keterangan tertulis, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan bahwa efisiensi menjadi nilai tambah penting dalam program ini. "Selain meningkatkan produksi, kegiatan ini juga menunjukkan efisiensi biaya dan waktu. Praktik baik seperti ini perlu direplikasi di lapangan lain untuk mempercepat pencapaian target lifting nasional serta memperkuat ketersediaan energi," tambahnya.
Secara operasional, seluruh pekerjaan dilakukan tanpa menggunakan rig (rigless operation) dengan memanfaatkan unit wireline, sehingga pelaksanaan menjadi lebih cepat dan ekonomis. Dari sisi anggaran, realisasi biaya tercatat sekitar 57 persen dari total anggaran yang telah disetujui, mencerminkan pengelolaan program yang efektif dan efisien.
Keberhasilan Well Services Sumur Banyu Urip A07 ini menegaskan bahwa strategi optimalisasi sumur eksisting merupakan langkah konkret dan cost-effective dalam menjaga momentum peningkatan lifting minyak nasional.
Keberhasilan ini akan menjadi pembelajaran bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang lain utntuk dapat menerapkan teknologi secara tepat dalam upaya peningkatan produksinya. Dengan inovasi teknologi yang tepat, sektor hulu migas mampu menghadirkan tambahan produksi secara berkelanjutan demi memperkuat ketahanan dan ketersediaan energi Indonesia.
(pgr/pgr) Add
source on Google