Harga Minyak Dunia Melejit, Gimana Nasib Harga BBM RI? Ini Kata Bahlil
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara perihal kenaikan harga minyak mentah global akibat konflik yang berlangsung antara Iran-Israel dan Amerika Serikat.
Bahlil menjelaskan bahwa BBM di Indonesia dibagi menjadi dua kategori yakni BBM subsidi dan non-subsidi. Untuk BBM subsidi seperti Pertalite (RON 90) dan Solar subsidi, ia memastikan harga tidak otomatis berubah meski harga minyak dunia naik.
"BBM dalam negeri itu kan dua, ada subsidi, ada yang di pasar. Kalau subsidi bensin Pertalite kalau naik gimanapun harga sama sebelum perubahan harga pemerintah," kata Bahlil dalam Konferensi Pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Sementara itu, untuk BBM non-subsidi, penyesuaian harga tetap akan mengikuti mekanisme pasar sesuai regulasi yang berlaku, termasuk mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 22.
"Kalau non subsidi ini kan sesuai dengan harga pasar sebelumnya berdasarkan permen 22. Kalau subsidi kalau gak ada kebijakan baru maka harga akan sama termasuk untuk Solar," katanya.
Sebagaimana diketahui, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Bahkan, negeri itu kini mengancam semua kapal yang nekad lewat akan ditembak.
Hal ini menjadi eskalasi terbaru sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara itu, Sabtu. Serangan yang dinamakan Trump Operasi Epic Furry itu sendiri menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
Akibatnya Iran membalas dendam dengan menembakkan rudal ke Israel dan negara Teluk yang menjadi basis pangkalan militer tentara Amerika, seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA dan Arab Saudi. Hizbullah, kelompok militer faksi Iran di Lebanon, juga mengatakan akan membela Iran dan membalas kematian Khamenei.
Mengutip Reuters dan Al Jazeera, pernyataan diberikan melalui laman Iran, Senin waktu setempat. Penutupan Selat Hormuz dan ancaman tembakan dikatakan seorang komandan di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)
"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu," kata Ebrahim Jabari, penasihat senior untuk panglima tertinggi IRGC, dimuat Selasa (3/3/2026).
Ia juga mengancam akan menyerang jalur pipa minyak. Bahkan membuat harga minyak melambung tinggi hingga US$ 200 per barel, dari harga saat ini.
"Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai US$200 dalam beberapa hari mendatang," kata Jabbari.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 12.55 WIB, kontrak Brent crude berada di US$80,32 per barel, melonjak 3,24% dibandingkan penutupan Senin (2/3/2026) di US$73,2.
Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$72,41 per barel, naik 2,60% dari posisi sebelumnya di US$71,23.
Penguatan ini memperpanjang tren kenaikan sejak pekan lalu. Pada 27 Februari 2026, Brent masih berada di US$72,48 per barel dan WTI di US$67,02.
Artinya, dalam tiga sesi perdagangan, Brent telah menguat hampir 10%, sedangkan WTI melonjak lebih dari 8%. Bahkan pada perdagangan intraday sebelumnya, Brent sempat menyentuh level di atas US$82 per barel-tertinggi sejak awal 2025.
Sentimen utama datang dari memanasnya konflik di Timur Tengah. Serangan udara yang meluas serta ancaman terhadap infrastruktur energi dan kapal tanker di kawasan Teluk meningkatkan premi risiko (risk premium) di pasar minyak.
Fokus pelaku pasar tertuju pada potensi terganggunya distribusi melalui Strait of Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global setiap harinya.
source on Google [Gambas:Video CNBC]