Internasional

Selat Hormuz Ditutup Iran, Negara-Negara Kena Dampak Paling Berat

sef, CNBC Indonesia
Selasa, 03/03/2026 15:41 WIB
Foto: Selat Hormuz (REUTERS/Amr Alfiky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menimbulkan guncangan di pasar energi global. Asia diperkirakan akan menghadapi dampak paling besar.

Sebelumnya, seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran mengatakan Senin bahwa Selat Hormuz telah ditutup. Ia bahkan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi jalur air tersebut akan menjadi sasaran.


Selat ini berfungsi sebagai jalur vital untuk perdagangan minyak global, antara Oman dan Iran. Menurut Kpler, sekitar 13 juta barel per hari melewatinya pada tahun 2025, mewakili sekitar 31% dari seluruh aliran minyak mentah melalui laut.

Penutupan Selat yang berkepanjangan kemungkinan akan menyebabkan lonjakan harga minyak lebih lanjut. Beberapa analis memperkirakan harga minyak akan melampaui US$100 per barel.

Patokan global Brent misalnya, sempat naik 2,6% menjadi sekitar US$80 per barel. Ini hampir 10% lebih tinggi sejak konflik pecah.

Masih merujuk Kpler, sekitar 20% ekspor gas alam cair global yang berasal dari Teluk juga berisiko, terutama yang berasal dari Qatar dan dikirim melalui Selat Hormuz. Qatar, salah satu penyedia LNG terbesar di dunia, menghentikan produksi pada hari Senin setelah drone Iran menyerang fasilitasnya di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed.

"Di Asia, Thailand, India, Korea, dan Filipina adalah yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak, karena ketergantungan impor mereka yang tinggi," tulis Nomura dalam sebuah catatan, dikutip CNBC International, Selasa (3/3/2026).

"Sementara Malaysia akan menjadi penerima manfaat relatif karena merupakan pengekspor energi," ujarnya.

Berikut detailnya:

Asia Selatan

Asia Selatan akan menghadapi gangguan paling akut, terutama dalam hal pasokan LNG. Menurut data Kpler, Qatar dan Uni Emirat Arab misalnya, menyumbang 99% impor LNG Pakistan, 72% impor Bangladesh, dan 53% impor India.

Di antara semuanya, Pakistan dan Bangladesh sangat rentan. Apalagi dengan fleksibilitas penyimpanan dan pengadaan yang terbatas.

Bangladesh khusunya, tekanan makin berat karena negeri itu mengalami defisit gas struktural yang signifikan. Menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis, negara tersebut mengalami kekurangan lebih dari 1.300 juta kaki kubik per hari.

"Pakistan dan Bangladesh memiliki fleksibilitas penyimpanan dan pengadaan yang terbatas, yang berarti gangguan kemungkinan akan memicu penurunan permintaan sektor energi yang cepat daripada penawaran spot yang agresif," kata analis Kpler, Katayama.

India sendiri mengimpor 60% dari Timur Tengah. Blokade yang berkelanjutan akan memperbesar biaya impor energi dan tekanan neraca transaksi berjalan.

China

Penutupan Selat Hormuz akan menguji keamanan energi China, meski negeri itu tetap memiliki persediaan dan pasokan alternatif. Menurut Kpler, China sendiri adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, dan membeli lebih dari 80% minyak Iran.

Untuk LNG, dari data UBP, China mengimpor sekitar 30% dari Qatar dan UEA. Di mana sekitar 40% impor minyaknya melewati Selat Hormuz.

"China terpapar secara material tetapi lebih fleksibel," kata Katayama.

Menurut Kpler, persediaan LNG China hingga akhir Februari mencapai 7,6 juta ton, memberikan perlindungan jangka pendek. Namun, China perlu bersaing untuk kargo Atlantik jika gangguan tersebut berlanjut, memperketat pasokan di cekungan Pasifik.

Dalam hal ini, dinamika tersebut dapat meningkatkan persaingan harga di seluruh Asia. Bahkan jika Beijing menghindari kekurangan pasokan secara langsung.

"(Tapi) Arab Saudi telah meningkatkan pengiriman minyak mentah dalam beberapa minggu terakhir, dan cadangan minyak strategis yang dimiliki oleh negara-negara konsumen utama seperti China, dapat memberikan bantalan sementara bagi pasar," kata Rystad Energy dalam sebuah catatan pada hari Minggu.

UBP mengatakan bahwa meskipun China adalah importir energi bersih utama di kawasan ini, negara tersebut belum tentu yang paling rentan terhadap potensi guncangan pasokan.

Jepang dan Korea Selatan

Jepang mendapat pasokan dari Timur Tengah hingga 75%. Sementara Korea Selatan (Korsel), mendapat pasokan hingga 70%.

Untuk LNG, Jepang hanya bergantung 6% sementara Korsel 14%.

"Ekonomi dengan ketergantungan impor energi yang tinggi seperti Jepang, Korea Selatan (juga) lebih rentan terhadap guncangan pasokan," kata kepala strategi makro dan valuta asing APAC di platform pembayaran Convera, Shier Lee Lim.

Kedua negara diketahui memiliki persediaan yang terbatas. Jepang memiliki sekitar 4,4 juta ton cadangan sementara Korsel memiliki sekitar 3,5 juta ton LNG.

"Cukup untuk memenuhi permintaan stabil selama kurang lebih dua hingga empat minggu," menurut Kpler.

Asia Tenggara

Di sebagian besar Asia Tenggara, dampak utama yang dirasakan adalah inflasi biaya. Jadi bukan kekurangan pasokan langsung.

"Pembeli LNG yang bergantung pada harga spot akan menghadapi biaya penggantian yang jauh lebih tinggi karena Asia bersaing dengan Eropa untuk kargo Atlantik," kata Katayama dari Kpler.

Thailand khususnya merupakan negara yang paling dirugikan oleh harga minyak, menurut Nomura, karena dampak eksternalnya besar dan langsung. Thailand memiliki impor minyak bersih terbesar di Asia sebesar 4,7% dari PDB, dan setiap kenaikan harga minyak 10% memperburuk neraca transaksi berjalan sekitar 0,5 poin persentase dari PDB negara tersebut.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Waspada Lonjakan Inflasi Akibat Kenaikan Harga Minyak