MARKET DATA

RI Targetkan Pembangkit Nuklir Terbangun 2032, Ini Potensi Lokasinya

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
03 March 2026 16:30
People visit a park before towers of a power plant in Shanghai on  July 17, 2015.  AFP PHOTO / JOHANNES EISELE (Photo by Johannes EISELE / AFP)
Foto: AFP/JOHANNES EISELE

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 telah menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) perdana bisa beroperasi pada 2032-2034.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana mengatakan, setidaknya 500 Mega Watt (MW) PLTN ditargetkan beroperasi mulai 2032. Adapun lokasi potensialnya yakni di Sumatra atau Kalimantan.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan nuklir nasional kini telah bergeser, di mana energi nuklir tidak lagi ditempatkan sebagai opsi terakhir, melainkan sebagai penyeimbang bauran energi primer untuk mencapai target emisi nol bersih.

"Target RUPTL 2025-2034 adalah kapasitas (PLTN) awal sebesar 500 Mega Watt. Ini akan disebarkan secara strategis mulai tahun 2032, apakah di sistem kelistrikan Sumatra atau Kalimantan," ungkap Dadan dalam acara Pembukaan Workshop on Small Modular Reactor Deployment Considerations for Indonesia, di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Dadan memaparkan bahwa teknologi yang akan didorong untuk dikembangkan yaitu Reaktor Modular Kecil atau Small Modular Reactor (SMR). Teknologi itu dinilai sangat cocok dengan karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan karena menawarkan fleksibilitas penempatan di daerah terpencil maupun integrasi ke dalam jaringan listrik regional yang lebih kecil, seperti di kawasan industri.

"Bagi negara kepulauan seperti kita di Indonesia, teknologi SMR menawarkan solusi transformatif. Berbeda dengan reaktor skala besar, SMR memberikan fleksibilitas untuk ditempatkan di daerah terpencil dan diintegrasikan ke dalam jaringan listrik regional yang kecil atau lebih kecil," tambahnya.

Dalam jangka panjang, pemerintah berencana meningkatkan kapasitas energi nuklir hingga mencapai total 44 Giga Watt (GW) pada tahun 2060. Dari total tersebut, sebesar 35 GW dialokasikan untuk pembangkit listrik, sementara 9 GW sisanya didedikasikan untuk mendukung produksi hidrogen nasional yang direncanakan mulai pada 2045.

"Pertama mengenai lokasi, kami telah mengidentifikasi beberapa lokasi potensial di seluruh kepulauan. Prinsip kami sederhana: kami hanya akan melanjutkan dengan lokasi yang memenuhi standar keselamatan dan lingkungan yang paling ketat," tandasnya.

(wia) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jerman Musnahkan Pembangkit Listrik Nuklir, Kenapa?


Most Popular
Features