Gak Cuma BBM, Stok LPG RI Juga Terancam Imbas Tutupnya Selat Hormuz

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Selasa, 03/03/2026 12:10 WIB
Foto: Ilustrasi kilang minyak, dan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran tampak dalam ilustrasi ini yang diambil pada 2 Maret 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi/Foto Arsip

Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz ternyata tidak hanya mengancam pasokan minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) saja. Namun kondisi tersebut juga berpotensi mengguncang ketersediaan LPG nasional.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengingatkan pemerintah agar segera mengantisipasi risiko gangguan distribusi energi, khususnya LPG yang menyangkut kebutuhan dasar rumah tangga.

Menurut Komaidi, selain minyak, risiko yang tak kalah penting adalah pasokan liquefied petroleum gas (LPG). Konsumsi LPG dalam negeri mencapai sekitar 9 juta metrik ton per tahun, sementara produksi domestik baru sekitar 1,8 juta metrik ton.


"LPG ini konsumsi dalam negeri per tahun adalah 9 juta metrik ton. Sementara produksi domestik baru 1,8 juta metrik ton berarti ada 7,2 juta metrik ton yang harus kita impor per tahun itu sumbernya nya dari dua lokasi utama," kata Komaidi kepada CNBC Indonesia, Selasa (3/3/2026).

Setidaknya, sekitar 52% impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat dan sisanya 48% dari Timur Tengah. Sementara, saat ini dua-duanya sedang terlibat dalam konflik regional dengan eskalasi yang cukup serius.

Adapun, eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan Iran-Israel serta potensi keterlibatan proksi-proksi regional, dinilai berisiko mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengantisipasi kondisi tersebut, menggingat LPG berkaitan dengan kebutuhan energi yang paling mendasar yakni untuk memasak.

"Kalau sampai LPG gak ada rush nya akan lebih besar lagi dibandingkan hanya ketersediaan BBM. KalauBBM mungkin kita bisa mensiasati untuk gak banyak berpergian transportasi di manage tapi kalau berkaitan dengan kebutuhan dapur gak bisa," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Bahkan negeri itu kini mengancam semua kapal yang nekad lewat akan ditembak.

Hal ini menjadi eskalasi terbaru sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara itu, Sabtu. Serangan yang dinamakan Trump Operasi Epic Furry itu sendiri menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Akibatnya Iran membalas dendam dengan menembakkan rudal ke Israel dan negara Teluk yang menjadi basis pangkalan militer tentara Amerika, seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA dan Arab Saudi. Hizbullah, kelompok militer faksi Iran di Lebanon, juga mengatakan akan membela Iran dan membalas kematian Khamenei.

Mengutip Reuters dan Al Jazeera, pernyataan diberikan melalui laman Iran, Senin waktu setempat. Penutupan Selat Hormuz dan ancaman tembakan dikatakan seorang komandan di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)

"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu," kata Ebrahim Jabari, penasihat senior untuk panglima tertinggi IRGC, dimuat Selasa (3/3/2026).

Ia juga mengancam akan menyerang jalur pipa minyak. Bahkan membuat harga minyak melambung tinggi hingga US$ 200 per barel, dari harga saat ini.

"Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai US$200 dalam beberapa hari mendatang," kata Jabbari.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Selat Hormuz Ditutup, Bahlil Lapor Prabowo Soal Ketahanan Energi