Petani Sawit RI Ketakutan Efek Domino Perang Iran, Napas Cuma 1x24 Jam
Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak perang di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran di dalam negeri, terutama bagi sektor perkebunan kelapa sawit. Dampak tidak langsung terhadap rantai pasok energi global dinilai berpotensi menekan biaya produksi hingga mengganggu arus ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia.
Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Hendratmojo Bagus Hudoro menegaskan, pemerintah tengah memantau ketat dinamika yang terjadi di kawasan tersebut.
"Dampaknya luar biasa. Sekarang ini bukan penutupan ekspor, tapi ekspor tetap berjalan. Namun karena kondisi cuaca dan suasana di negara sana yang sedang bergejolak, mau nggak mau kita harus menyiapkan antisipasi," ujar Bagus dikutip Selasa (3/2/2026).
Strategi mitigasi sudah mulai disiapkan, termasuk langkah antisipatif untuk melindungi petani dari potensi tekanan harga dan biaya.
"Yang jelas, kita harus menyiapkan strategi itu dari sisi yang sampai dampaknya ke petani. Karena risikonya nanti pasti yang pertama menderita dan sangat merasakan itu petani," katanya.
Kekhawatiran terbesar datang dari sisi biaya produksi. Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Rino Afrino mengingatkan pengalaman saat perang Rusia-Ukraina yang memicu lonjakan harga pupuk.
"Tentu saja terkait perang di Timur Tengah ini, kami punya pengalaman kemarin perang Rusia-Ukraina. Yang paling menakutkan bagi kami petani sawit itu pertama adalah kenaikan harga pupuk, karena pupuk ini full kita semua impor," kata Rino.
Sementara itu, bahwa jalur distribusi minyak dunia yang terganggu akan berdampak langsung pada harga energi dan akhirnya merembet ke ongkos produksi sawit.
"Kalau minyak bumi sulit keluar dari selat tersebut, pasti harga minyak naik. Nah kalau melambung seperti itu tentu biaya-biaya pasti naik," ujarnya.
Indonesia yang masih mengandalkan ekspor sekitar 60% produksi CPO disebut sangat rentan jika negara pembeli seperti India menahan pembelian akibat harga yang terlalu tinggi.
"Kalau 60% itu negara pembeli menahan CPO-nya, maka akan menumpuk di tangki kita. PKS (pabrik kelapa sawit) akan pelan-pelan membeli TBS (tandan buah segar) petani. Petani hanya punya napas 1x24 jam," tegas Rino.
Menurutnya, kondisi tersebut bisa mengulang situasi saat larangan ekspor beberapa waktu lalu, ketika harga global tinggi tetapi harga TBS di tingkat petani justru anjlok.
"Petani sawit terkenal tahan banting. Tetapi tahannya berapa lama? Itu yang menakutkan," tutupnya.
(dce) Add
source on Google