MARKET DATA

CPO & Nikel Lagi Moncer di Awal Tahun, Ekspor RI Tembus US$22,1 M

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
02 March 2026 13:35
Penertiban kegiatan usaha pertambangan di Dusun Nadi, Desa Lubuk Lingkuk, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Rabu (19/11/2025). (Instagram/PuspenTNI)
Foto: Penertiban kegiatan usaha pertambangan di Dusun Nadi, Desa Lubuk Lingkuk, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Rabu (19/11/2025). (Instagram/PuspenTNI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja ekspor Indonesia pada awal tahun ini masih mampu tumbuh, meskipun untuk sejumlah komoditas mengalami penurunan permintaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor secara keseluruhan senilai US$ 22,16 miliar atau naik 3,39% dibanding Januari 2025. Ditopang oleh ekspor produk industri pengolahan.

"Peningkatan ekspor non migas terjadi di industri pengolahan," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Ekspor industri pengolahan menjadi yang tumbuh satu-satunya pada Januari 2026 dengan nilai sebesar US$ 18,51 miliar atau tumbuh 8,19%.

"Utamanya disebabkan oleh peningkatan ekspor minyak kelapa sawit, nikel, besi dan baja, semi konduktor dan komponen elektronik lainnya, serta ekspor kendaraan roda empat," kata Ateng.

Sementara itu, untuk ekspor komoditas lainnya, seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan justru merosot dengan nilai hanya sebesar US$ 440 juta, atau turun 20,36% dibanding Januari 2025.

Demikian juga untuk komoditas pertambangan dan lainnya yang juga merosot dua digit dengan minus 14,59% secara tahunan. Nilainya pada Januari 2026 hanya menjadi US$ 2,32 miliar.

"Pertanian dan pertambangan menurun. Pertanian turun 20,35% sedangkan pertambangan minus 14,59%," papar Ateng.

(arj/mij) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Daya Beli Petani Terganggu di Oktober, BPS Ungkap Faktanya!


Most Popular
Features