Surplus Neraca Dagang RI US$954 Juta di Awal 2026, BI Buka Suara
Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 954 juta. Ini adalah surplus dalam 69 bulan beruntun sejak Mei 2021.
Namun, surplus ini menjadi yang terendah dalam 9 bulan terakhir. Surplus ini bahkan lebih kecil dibandingkan akhir Desember 2025, sebesar US$ 2,51 miliar. Bank Indonesia (BI) buka suara perihal surplus pada bulan Januari ini.
"Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan ini positif untuk terus menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny, dikutip Selasa (3/3/2026).
Ke depan, Denny menegaskan BI akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
BI melihat Surplus neraca perdagangan yang berlanjut terutama bersumber dari berlanjutnya surplus neraca perdagangan nonmigas. Neraca perdagangan nonmigas pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$ 3,23 miliar, seiring dengan tetap kuatnya ekspor nonmigas sebesar US$ 21,26 miliar.
"Kinerja positif ekspor nonmigas tersebut terutama didukung oleh ekspor berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani/nabati maupun produk manufaktur seperti nikel dan barang daripadanya, kendaraan dan bagiannya, mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, serta alas kaki," ujar Denny.
Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia. Sementara itu, neraca perdagangan migas tercatat defisit sebesar 2,27 miliar dolar AS pada Januari 2026 sejalan dengan penurunan ekspor migas di tengah menurunnya impor migas.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]