Bos Pengusaha Mebel Ingatkan Jangan Numpuk Ekspor di Satu Negara
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian geopolitik global dinilai menjadi peringatan bagi industri mebel nasional untuk memperkuat strategi ekspor. Pelaku industri mulai mendorong diversifikasi pasar guna mengurangi risiko gangguan logistik internasional.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Abdul Sobur mengatakan konflik yang memengaruhi jalur pelayaran global dapat berdampak pada sejumlah pasar tujuan ekspor.
"Negara yang paling rawan terdampak tentu kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, terutama jika jalur pelayaran utama mengalami gangguan," kata Sobur kepada CNBC Indonesia, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, tidak hanya pasar Timur Tengah yang berpotensi terganggu, tetapi juga pengiriman ke kawasan lain yang menggunakan jalur pelayaran serupa.
"Rute ke Eropa juga bisa ikut terdampak jika operator kapal memutuskan memutar jalur untuk menghindari wilayah berisiko. Dampaknya jadwal kapal menjadi rolling," ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, eksportir harus bersiap menghadapi ketidakpastian pengiriman sekaligus menjaga hubungan dengan pembeli di luar negeri.
"Biasanya pada fase awal konflik, buyer tidak langsung membatalkan pesanan. Mereka cenderung menunda pengiriman atau menunggu kepastian jadwal kapal," kata Sobur.
Untuk merespons situasi tersebut, pelaku usaha mulai menerapkan sejumlah strategi operasional agar aktivitas ekspor tetap berjalan.
"Salah satu langkah yang kami lakukan adalah menegosiasikan kembali syarat pengapalan, termasuk klausul war-risk atau emergency surcharge agar jelas siapa yang menanggung biaya tambahan," jelasnya.
Selain itu, perusahaan juga memperkuat perencanaan produksi agar lebih fleksibel terhadap gangguan logistik.
"Kami juga memperkuat buffer produksi dan menambah waktu dalam perencanaan lead time. Booking kapal harus dilakukan lebih awal agar tidak terkena keterlambatan," kata Sobur.
Strategi lain yang mulai didorong adalah diversifikasi jalur pelayaran dan pelabuhan pengiriman.
"Pelaku usaha tidak bisa hanya bergantung pada satu rute atau satu pelabuhan. Diversifikasi rute menjadi penting untuk mengurangi risiko gangguan," ujarnya.
Dari sisi pasar, industri juga mulai memperluas target ekspor ke kawasan lain di luar pasar tradisional.
"Kami mendorong anggota untuk tidak menumpuk ekspor hanya di satu atau dua negara. Pasar seperti Eropa, Asia Timur, Australia, dan India harus lebih agresif digarap," kata Sobur.
Menurutnya, pameran furnitur internasional juga dapat menjadi momentum untuk mencari pembeli baru di tengah ketidakpastian global, termasuk Indonesia Furniture Expo (IFEX) yang bakal berlangsung awal Maret mendatang di ICE BSD.
"Pameran seperti IFEX bisa menjadi shock absorber bagi industri karena membuka peluang bertemu buyer baru secara langsung," jelasnya.
Pameran dapat memungkinkan pelaku usaha mempercepat negosiasi dan memperkuat kontrak dagang yang lebih adaptif terhadap risiko logistik.
"Perang bukan hanya menekan industri dari sisi permintaan, tetapi juga dari ketidakpastian logistik seperti lead time, insurance, dan freight. Karena itu kami mendorong diversifikasi pasar dan kontrak dagang yang lebih adaptif agar ekspor tetap tumbuh," kata Sobur.
(dce) Add
source on Google