MARKET DATA

RI Impor Energi AS US$15 Miliar, Bahlil: Tak Tambah Impor, Cuma Geser!

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
02 March 2026 17:00
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat menyampaikan paparan dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Gedung Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/PerekonomianRI)
Foto: Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia saat menyampaikan paparan dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Gedung Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/PerekonomianRI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa perjanjian perdagangan terbaru antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tidak akan menambah kuota impor energi nasional secara keseluruhan. Kesepakatan tersebut sejatinya hanya strategi pengalihan sumber pasokan energi ke Negeri Paman Sam.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa kebutuhan energi di dalam negeri seperti LPG, BBM, dan minyak mentah memang masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri karena produksi domestik belum mencukupi. Ia memastikan langkah tersebut murni memindahkan asal negara pemasok tanpa memperbesar total volume impor yang sudah berjalan selama ini.

"Kita hanya mengganti saja. Jadi volume angka impornya sama, switch tempatnya aja yang berbeda. Jadi yakinlah bahwa kedaulatan bangsa ini tetap terjaga, saya tidak akan mungkin menjual bangsa sendiri," ungkap Bahlil dalam acara Semarak Milad ke-28 KAMMI di Jakarta, dilansir dari keterangan resmi, dikutip Senin (2/3/2026).

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen untuk membeli produk energi dari AS dengan nilai US$ 15 miliar atau setara Rp 253,1 triliun (asumsi kurs Rp 16.879 per US$).

Detailnya, komitmen tersebut mencakup impor energi termasuk LPG sebesar US$ 3,5 miliar, minyak mentah (crude oil) sebesar US$ 4,5 miliar, serta produk BBM olahan tertentu senilai US$7 miliar yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri.

"Untuk kebutuhan LPG kita setiap tahun sebesar 8,3 juta ton, sementara produksi nasional kita 1,6 juta sehingga per tahun kita mengimpor 7 juta ton. Yang kedua BBM dan ketiga crude, inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja US$15 miliar," tambah Bahlil.

Soal harga, pemerintah menjamin bahwa pembelian komoditas energi dari AS tetap mengikuti mekanisme pasar yang berlaku secara global. Bahkan, Bahlil mengklaim harga yang didapatkan dari kerja sama ini cukup kompetitif dan tidak membebani keuangan negara jika dibandingkan dengan pemasok dari wilayah lain.

"Harga impor ketiga produk senilai US$15 miliar dari Amerika tersebut sama dengan harga pasar. Jadi tidak ada perbedaan apakah dari Middle East atau dari Amerika. Itu harganya sama, bahkan justru untuk LPG dari Amerika jauh lebih murah ketimbang dari negara-negara yang lain," jelasnya.

Sebagai informasi, kesepakatan tersebut tertuang dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang difinalisasi dalam pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pekan lalu. Pemerintah memastikan seluruh komitmen dagang ini tetap memprioritaskan kepentingan nasional serta ketahanan energi domestik.

(wia) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bahlil Sebut Impor Minyak dari AS Mulai Jalan di Desember


Most Popular
Features