Internasional

Horor Selat Hormuz Jadi "Medan Perang", 60 Kapal Prancis Terjebak

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 15:17 WIB
Foto: Kapal di Selat Hormuz. (via REUTERS/IRGC via Wana News Agency)

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi perang besar yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel kini melumpuhkan jalur perdagangan dunia. Sebanyak kurang lebih 60 kapal komersial milik atau berbendera Prancis dilaporkan terjebak di kawasan Teluk dan tidak dapat bergerak akibat ancaman keamanan yang sangat tinggi di Selat Hormuz.

Direktur Jenderal Armateurs de France, Laurent Martens, mengungkapkan bahwa puluhan kapal tersebut saat ini sedang dalam kondisi tertahan. Langkah ini diambil menyusul instruksi langsung dari otoritas militer guna menghindari risiko fatal di tengah berkecamuknya pertempuran di jalur laut strategis tersebut.

"Kapal-kapal tersebut telah diperintahkan oleh angkatan laut Prancis untuk mencari perlindungan yang aman," ujar Laurent Martens kepada AFP, sebagaimana dikutip Senin (2/3/2026).


Meskipun terjebak di zona konflik, Martens menjelaskan bahwa armada komersial ini bukanlah sasaran utama dari pihak-pihak yang bertikai. Prioritas saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh awak kapal yang berada di dalam armada yang tertahan di berbagai pelabuhan sekitar Teluk.

"Kapal-kapal ini bukan target prioritas dalam konflik dan anggota kru mereka berlindung di dalam kapal, di pelabuhan," tambah Martens menjelaskan kondisi terkini para pelaut.

Kondisi genting ini juga dikonfirmasi oleh Ketua Armateurs de France, Edouard Louis-Dreyfus. Ia menegaskan bahwa akses keluar masuk melalui Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi transportasi energi dunia, saat ini sudah tidak mungkin lagi untuk ditembus oleh kapal-kapal komersial.

"Sekitar 60 kapal yang terjebak di Teluk tidak bisa melewati Selat Hormuz," tegas Edouard Louis-Dreyfus saat berbicara kepada radio France Inter.

Selat Hormuz, yang lebarnya hanya 50 kilometer di titik tersempit, kini menjadi titik panas pertempuran setelah Garda Revolusi Iran mulai menghubungi kapal-kapal untuk menginformasikan bahwa jalur tersebut ditutup. Ketegangan semakin memuncak pada hari Minggu setelah dua kapal dilaporkan diserang di lepas pantai Oman dan Uni Emirat Arab (UEA).

"Kapal-kapal yang tertahan telah diperintahkan untuk tidak bergerak, tidak mencoba untuk pergi, dan kapal-kapal lain telah diperingatkan untuk menjauh sejauh mungkin dari wilayah tersebut," kata Louis-Dreyfus mengenai instruksi darurat yang dikeluarkan.

Situasi kian mencekam lantaran pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang menjadi target rudal Iran terletak sangat dekat dengan pelabuhan-pelabuhan utama di negara-negara Teluk. Hal ini menimbulkan kekhawatiran luar biasa bagi industri pelayaran global karena risiko kerusakan kolateral yang sangat tinggi.

"Situasi ini adalah masalah yang sangat mengkhawatirkan bagi perusahaan pelayaran, mengingat pangkalan AS-yang menjadi sasaran rudal Iran-berada di sebagian besar negara Teluk ini dan dekat dengan pelabuhan," papar Louis-Dreyfus.

Sebagai langkah antisipasi, Armateurs de France kini tengah berupaya mengurangi jumlah kru di atas kapal hingga ke tingkat minimum dan melakukan repatriasi atau pemulangan kru jika memungkinkan. Langkah drastis ini juga diikuti oleh raksasa pelayaran dunia seperti MSC dan Maersk yang telah menangguhkan pelayaran melalui Selat Hormuz dan Terusan Suez demi alasan keamanan.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kemendag Targetkan RI Jadi Simpul Perdagangan Dunia