Bos Biofarma Respons Efek Status WLA yang Diraih BPOM
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Biofarma Shadiq Akasya merespons soal status WHO Listed Authority (WLA) yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurut dia, status WLA menjadi bukti kesetaraan yang memastikan kualitas obat Indonesia diakui di luar negeri.
"Kita berharap dengan WLA, ada kemudahan-kemudahan untuk sertifikasi dan ketiga kita bisa memperluas jaringan pasar dan ini juga selayaknya WHO nanti bisa lebih percaya. Produk-produk sekarang diterima di berbagai negara," ungkap Shadiq dalam Health Forum CNBC Indonesia, Jumat (27/2/2026).
Diketahui pengakuan ini menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator terkemuka yaitu negara-negara maju di dunia, seperti Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia. Pencapaian status WLA akan memberikan dampak strategis bagi Indonesia, termasuk meningkatkan produksi dalam negeri sehingga mendukung kemandirian obat dan vaksin.
Secara rinci, Shadiq mengatakan di sektor hulu, Indonesia memerlukan usaha yang lebih besar. Sedangkan di hilir, Bio Farma mampu memproduksi 20 antigen dan melakukan ekspor ke 150 negara di dunia.
"Tentunya dengan WLA ini akan sangat menarik, karena produk-produk akan lebih dipercaya dan ini harga yang mahal. Sekarang dengan WLA standar kita juga makin mudah karena standarnya dekati ke situ. Ini juga mungkin upaya yang lebih meningkatkan hulunya untuk dikembangkan," jelas Shadiq.
Sebagai informasi, Bio Farma telah melakukan ekspor obat dan vaksin dengan porsi hingga 54%. Selain itu, ekspor yang dilakukan juga dikembangkan dengan produk-produk imunisasi di masing-masing negara. Shadiq juga menyebut beberapa negara sebagai pasar potensial, seperti Nigeria dan Pakistan yang memiliki jumlah kelahiran yang cukup tinggi.
(rah/rah) Add
source on Google