Internasional

Breaking! Israel Balas Roket Hizbullah, Lebanon Jadi Medan Perang Baru

luc, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 11:17 WIB
Foto: Kelompok Hizbullah membalas serangan Israel ke wilayah Lebanon. Mereka melancarkan serangan artileri terhadap pasukan Israel di seberang perbatasan, tepatnya di Metula yang ada di wilayah Israel bagian utara. (REUTERS/Thomas Peter)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rentetan dentuman keras mengguncang ibu kota Lebanon pada Senin (2/3/2026) ketika Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah pinggiran selatan Beirut yang dikuasai Hizbullah. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah kelompok yang didukung Iran tersebut menembakkan rudal dan drone ke wilayah Israel sebagai balasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Warga melaporkan sedikitnya belasan ledakan terdengar hampir bersamaan. Israel menyerang tiga lokasi berbeda di kawasan selatan Beirut. Getaran akibat ledakan membuat jendela-jendela bergetar di berbagai penjuru kota dan suara dentumannya terdengar hingga bermil-mil jauhnya.

Di Lebanon selatan, warga mendengar deru jet tempur dan suara bom dijatuhkan ketika serangan udara menghantam wilayah luas di bagian selatan negara itu. Sejumlah bangunan di desa-desa dekat Tyre dilaporkan runtuh akibat gempuran tersebut.


Hizbullah dalam pernyataannya menyebut telah meluncurkan rentetan rudal dan drone ke fasilitas pertahanan rudal Mishmar al-Karmel di dekat Haifa sekitar tengah malam. Serangan itu, menurut mereka, dilakukan sebagai "pembalasan" atas pembunuhan Khamenei dan "untuk membela Lebanon dan rakyatnya".

Beberapa jam kemudian, Israel membalas. Militer Israel menyatakan telah menyerang target-target Hizbullah di Lebanon selatan, Lembah Bekaa, serta Dahieh, pinggiran selatan Beirut yang menjadi basis utama kelompok tersebut. Militer Israel mengklaim serangan di Dahieh menewaskan sejumlah perwira senior Hizbullah.

"Hizbullah melancarkan kampanye melawan Israel dalam semalam dan sepenuhnya bertanggung jawab atas setiap eskalasi. Musuh manapun yang mengancam keamanan kita akan membayar harga yang mahal," kata Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir dalam sebuah pernyataan, dilansir The Guardian.

Juru bicara militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi bagi 55 desa dan kota di Lebanon. Warga diminta menjauh setidaknya 1.000 meter dari lokasi-lokasi tersebut karena berada di dekat "fasilitas operasi Hizbullah." Sehari sebelumnya, Minggu, militer Israel mengumumkan pengerahan 100.000 pasukan cadangan, banyak di antaranya ditempatkan di sepanjang perbatasan dengan Lebanon.

Di Dahieh, arus pengungsian langsung terlihat. Warga berbondong-bondong meninggalkan kawasan itu menggunakan mobil maupun berjalan kaki. Antrean kendaraan mengular di luar stasiun pengisian bahan bakar di kota Tyre, Lebanon selatan, ketika penduduk mulai bergerak ke arah utara.

Jalan raya dari Dahieh menuju pusat Beirut macet total oleh mobil dan sepeda motor yang melintasi puing-puing sisa serangan sebelumnya. Di wilayah selatan, pengendara bahkan menggunakan kedua sisi jalan tol untuk melawan arus demi menghindari kemacetan.

Video yang beredar memperlihatkan bagian atas gedung-gedung di Dahieh dilalap api, sementara bangkai mobil hangus tergeletak di bawah reruntuhan bangunan. Di tengah kepanikan untuk menyelamatkan diri, sejumlah saksi mata melaporkan melihat rentetan roket meluncur dari Lebanon selatan ke arah Israel, yang diduga sebagai tembakan artileri Hizbullah.

Bayang-bayang perang 13 bulan antara Israel dan Hizbullah yang berakhir pada 2024 kembali menghantui warga Lebanon. Kekhawatiran cepat menyebar bahwa Dahieh, Lembah Bekaa, dan sebagian besar wilayah selatan bisa kembali tak layak huni seperti saat itu.

Selama perang tersebut, Israel mengebom kawasan-kawasan itu hampir setiap hari. Hampir 4.000 orang tewas dan sekitar satu juta lainnya mengungsi.

Pada jam-jam pertama Senin pagi, keluarga dan kerabat saling berkoordinasi untuk menentukan langkah yang harus diambil, mencoba memahami situasi yang berkembang, sementara jumlah warga yang mengungsi dari wilayah terdampak terus bertambah.

Pemerintah Lebanon segera mengecam keputusan Hizbullah menyerang Israel tanpa berkonsultasi dengan negara. Tanpa menyebut nama kelompok tersebut secara langsung, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan tidak akan "jangan biarkan negara terseret ke dalam petualangan baru."

"Serangan roket dari Lebanon selatan adalah tindakan tidak bertanggung jawab dan mencurigakan yang membahayakan keamanan dan keselamatan Lebanon serta memberi Israel dalih untuk melanjutkan agresinya," ujar Salam dalam unggahan di platform X.

Selama beberapa pekan terakhir, pejabat Lebanon berupaya keras mencegah Hizbullah terseret dalam potensi perang yang lebih luas terkait Iran. Israel disebut telah menyampaikan pesan kepada pihak Lebanon bahwa setiap serangan akan memicu respons besar-besaran terhadap seluruh wilayah negara tersebut.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rudal Balistik Iran Serang Israel, 20 Terluka & 6 Tewas