MARKET DATA

Iran Digempur AS-Israel, Pemprov DKI: Stok Pangan Jakarta Tetap Aman

Arrijal Rachman ,  CNBC Indonesia
02 March 2026 08:10
Suasana aktivitas penjualan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Jumat (8/8/2025). Indeks kenaikan harga-harga atau inflasi berpotensi terkerek naik pada Agustus 2025, salah satu penyebabnya adalah terus tingginya harga beras. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Suasana aktivitas penjualan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Jumat (8/8/2025). Indeks kenaikan harga-harga atau inflasi berpotensi terkerek naik pada Agustus 2025, salah satu penyebabnya adalah terus tingginya harga beras. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta memastikan ketersediaan bahan pokok masyarakat aman dan mencukupi selama periode bulan suci Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri 2026.

Pernyataan disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo merespons situasi geopolitik global di tengah konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran yang memanas, yang berpotensi memengaruhi harga komoditas internasional.

"Berdasarkan prognosa kebutuhan dan ketersediaan pangan, seluruh komoditas strategis di Jakarta berada dalam status cukup dengan cadangan yang memadai di tengah memanasnya konflik AS-Israel dan Iran," ucap Elisabeth dalam siaran pers Pemprov DKI Jakarta, dikutip Senin (1/3/2026).

Elisabeth memastikan Pemprov DKI Jakarta telah melakukan proyeksi kebutuhan secara detail kebutuhan bahan pokok untuk periode Ramadan dan Idulfitri.

Pada periode Ramadan tahun ini, kebutuhan pangan ia akui memang meningkat di Jakarta, terutama pada komoditas telur ayam yang naik sekitar 7,5%, serta daging sapi/kerbau, serta bawang putih yang naik sekitar 3,5%.

Namun, ia menekankan, khusus untuk stok beras tersedia lebih dari 100 ribu ton atau jauh di atas kebutuhan sekitar 68 ribu ton.

"Sementara daging ayam dan daging sapi juga memiliki cadangan berlipat dari kebutuhan bulanan. Begitu pula gula pasir dan minyak goreng yang stoknya mencapai puluhan ribu ton dan dinyatakan mencukupi," kata Elisabeth.

Sebagaimana diketahui, konflik di Timur Tengah mampu mempengaruhi harga-harga komoditas, karena kawasan itu menjadi produsen utama komoditas energi yang menjadi motor penggerak aktivitas perdagangan.

Pemerintah Iran juga telah menyatakan akan menutup jalur perdagangan di selat Hormuz dengan adanya insiden serangan AS-Iran yanh turut menewaskan pemimpin tertinggi negeri para mullah itu, yakni Ali Hosseini Khamenei. Penutupan Selat Hormuz mampu mengakibatkan kelanjutan kenaikan harga minyak dunia.

Berdasarkan data perdagangan pada pekan terakhir Februari 2026, harga minyak dunia menunjukkan pergerakan yang dinamis namun cenderung stabil pada awal hingga pertengahan minggu. Pada Senin (23/2/2026), minyak mentah acuan global, Brent, dibuka pada level US$ 71,49 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$ 66,31 per barel.

Memasuki pertengahan pekan, harga mengalami konsolidasi dan menyentuh level US$ 70,75 per barel untuk Brent serta US$ 65,21 per barel untuk WTI pada Kamis (26/2/2026). Pergerakan berbalik pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), di mana Brent ditutup menguat sekitar 2% pada level US$ 72,48 per barel dan WTI mencatatkan posisi penutupan di US$ 67,02 per barel.

Peningkatan harga pada akhir pekan tersebut mengindikasikan adanya langkah penyesuaian posisi portofolio oleh para pelaku pasar sebelum penutupan bursa. Langkah ini merupakan bentuk mitigasi risiko terhadap potensi perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah selama akhir pekan.

Sejalan dengan perkembangan situasi tersebut, sejumlah institusi perbankan melakukan pembaruan terhadap proyeksi pasar energi. Barclays, dalam laporan terbarunya, merevisi perkiraan harga minyak berjangka Brent dari US$ 80 per barel menjadi sekitar US$ 100 per barel.

Revisi proyeksi tersebut didasarkan pada perhitungan risiko logistik di perairan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz. Berdasarkan data industri, sekitar 20% dari total konsumsi minyak global didistribusikan melalui jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab tersebut. Potensi hambatan atau disrupsi pada rute distribusi ini menjadi faktor risiko utama yang diantisipasi oleh pasar komoditas.

(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bulog Mau Bangun 100 Gudang Baru, Ini Lokasinya-Pemda Ikut Bantu


Most Popular
Features