MARKET DATA
Internasional

7 Update Perang AS-Israel vs Iran, Ratusan Warga Jadi Korban

tfa,  CNBC Indonesia
02 March 2026 08:05
Ribuan orang membawa poster bergambar mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, saat menggelar aksi unjuk rasa menentang serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran di Sanaa, Yaman, Minggu (1/3/2026).
Foto: (REUTERS/Khaled Abdullah)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran terus memanas dan menimbulkan korban besar lintas negara. Ratusan orang dilaporkan tewas dan terluka, dengan Iran menjadi wilayah paling terdampak akibat rangkaian serangan udara dan balasan rudal yang masih berlangsung.

Berikut update terbaru terkait situasi perang AS-Israel di Iran, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber pada Senin (2/3/2026).

1. Ratusan Tewas di Iran, Korban Meluas ke Beberapa Negara

Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran menimbulkan ratusan korban jiwa dan luka-luka di kawasan. Hingga Minggu (1/3/2026) waktu setempat, sebanyak 201 orang tewas dan 747 luka-luka di Iran, menjadikannya negara dengan korban terbanyak.

Palang Merah Iran melaporkan operasi penyelamatan masih berlangsung. Insiden paling mematikan terjadi di Minab, Iran tenggara, saat serangan ke sekolah dasar putri menewaskan sedikitnya 148 orang.

Di Israel, serangan rudal Iran menewaskan 9 orang dan melukai 121 lainnya, termasuk akibat hantaman di Beit Shemesh dan Tel Aviv.

Sementara itu, tiga tentara Amerika Serikat tewas dan lima luka parah, menurut pernyataan Komando Pusat AS. "Operasi tempur utama terus berlanjut," tulis Komando Pusat AS.

Korban juga dilaporkan di sejumlah negara lain, termasuk Uni Emirat Arab (3 tewas, 58 luka), Kuwait (1 tewas, 32 luka), serta luka-luka di Qatar, Oman, Irak, dan Bahrain. Tidak ada korban jiwa dilaporkan di Arab Saudi dan Yordania.

2. Trump: Operasi Militer AS ke Iran Bisa Rampung 4 Pekan

Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Iran diperkirakan akan berlangsung selama sekitar empat minggu. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Inggris Daily Mail pada Minggu.

"Ini selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu," kata Trump kepada Daily Mail.

Ia menambahkan, meskipun Iran merupakan negara besar dan kuat, operasi militer tersebut tidak akan memakan waktu lama.

"Sekuat apapun negara itu, ini adalah negara besar, akan memakan waktu empat minggu atau bahkan kurang," ujarnya.

Pernyataan ini menambah sinyal eskalasi konflik di Timur Tengah, seiring meningkatnya intensitas serangan militer yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir.

3. Sosok Pemimpin Tertinggi Sementara Iran

Iran menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Tertinggi sementara usai wafatnya Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan AS dan Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.

Penunjukan dilakukan untuk menjaga stabilitas pemerintahan selama masa transisi. Sesuai konstitusi, Pemimpin Tertinggi definitif akan dipilih oleh Majelis Pakar, lembaga beranggotakan sekitar 90 ulama senior.

Selama periode ini, Arafi menjadi bagian dari Dewan Kepemimpinan sementara bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei. Dewan tersebut menjalankan kewenangan Pemimpin Tertinggi hingga pengganti tetap ditetapkan.

Arafi lahir di Meybod, Provinsi Yazd, pada 1959 dan menempuh pendidikan keagamaan di Qom. Ia dikenal berpengaruh melalui jalur kelembagaan, termasuk saat memimpin Universitas Internasional Al-Mustafa (2009-2018), serta memiliki kedekatan dengan Khamenei yang membawanya ke sejumlah posisi strategis.

Dikenal bersikap keras terhadap AS, Arafi menyebut Washington sebagai "pusat pelanggaran HAM." Iran kini memasuki masa berkabung nasional 40 hari, sementara perhatian tertuju pada keputusan Majelis Pakar dalam menentukan Pemimpin Tertinggi baru.

4. Negara Muslim Ngamuk Khamenei Dibunuh

Perdana Menteri (PM) Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai pelanggaran hukum internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Sharif pada Minggu (1/3/2026) melalui akun media sosial X. Ia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada rakyat Iran atas wafatnya Khamenei.

"Rakyat Pakistan turut berduka cita bersama rakyat Iran di saat kesedihan dan duka cita mereka dan menyampaikan belasungkawa yang paling tulus atas kemartiran Ayatollah Ali Khamenei," tulis Sharif, seperti dikutip AFP.

Sharif juga menegaskan bahwa Islamabad menaruh perhatian serius terhadap implikasi hukum internasional dari peristiwa tersebut. "Pakistan juga menyatakan keprihatinan atas pelanggaran norma-norma hukum internasional," tambahnya.

Add as a preferred
source on Google

5. Saudi Cegat Rudal Iran ke Bandara Riyadh & Pangkalan AS

Arab Saudi mencegat serangan rudal Iran yang menargetkan Bandara Internasional Riyadh dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan pada Minggu. Informasi tersebut disampaikan sumber dari Teluk yang mengetahui insiden itu.

"Pertahanan udara berhasil mencegat rudal Iran di dekat Bandara Riyadh dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan pada Minggu sore," ujar sumber tersebut kepada AFP.

Ia menambahkan, pencegatan tidak mengganggu navigasi penerbangan serta tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material. Sumber itu meminta identitasnya dirahasiakan karena sensitivitas isu.

Saksi mata di sekitar bandara juga mengkonfirmasi kejadian tersebut. "Kami melihat dan mendengar pertahanan udara mencegat rudal di langit," kata seorang warga yang berada dekat lokasi.

Sebelumnya, warga dan koresponden AFP melaporkan mendengar ledakan di wilayah timur Riyadh. Insiden ini terjadi di tengah eskalasi serangan yang dilaporkan dilancarkan Iran sejak Sabtu pagi.

6. Uni Eropa Warning Perang Makin Panjang

Uni Eropa (UE) memperingatkan risiko perang berkepanjangan di Timur Tengah yang berpotensi mengancam kawasan Eropa dan sekitarnya. Blok tersebut mendesak Iran menahan diri dari pembalasan tanpa pandang bulu menyusul eskalasi terbaru pasca-serangan AS-Israel.

Para menteri luar negeri dari 27 negara anggota UE menggelar pertemuan luar biasa melalui konferensi video pada Minggu. Pertemuan ini berlangsung di hari kedua serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

"Kawasan Timur Tengah akan sangat dirugikan oleh perang yang berkepanjangan," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas usai pertemuan.

"Peristiwa di Iran tidak boleh memicu eskalasi yang dapat mengancam Timur Tengah, Eropa, dan sekitarnya, dengan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi, termasuk di bidang ekonomi," lanjutnya.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menilai kematian Khamenei memicu "harapan baru bagi rakyat Iran", namun sekaligus membawa "risiko nyata ketidakstabilan". Dalam pernyataannya di media sosial X, ia menyerukan perlunya "transisi yang kredibel" di Iran.

"Risiko eskalasi lebih lanjut itu nyata. Inilah sebabnya mengapa transisi yang kredibel di Iran sangat dibutuhkan," tulis von der Leyen. Ia menekankan solusi jangka panjang harus mencakup penghentian program nuklir dan rudal balistik militer Iran, serta penghentian tindakan destabilisasi di udara, darat, dan laut.

Aliansi pertahanan NATO menyatakan komandan tertingginya di Eropa memantau situasi Timur Tengah secara saksama dan menyesuaikan postur pasukan guna menghadapi "ancaman potensial", termasuk rudal balistik dan pesawat nirawak. NATO menyebut komandan tersebut, Jenderal AS Alexus Grynkewich, berkoordinasi aktif dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

Von der Leyen juga menyampaikan bahwa Brussel terlibat erat dengan para aktor kunci regional untuk menjaga stabilitas. Ia melakukan komunikasi dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Raja Yordania Abdullah II, serta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

7. Putra Mahkota Iran Serukan Aksi Protes

Putra Shah terakhir Iran yang hidup di pengasingan, Reza Pahlavi, menyerukan warga Iran untuk menggelar aksi protes jalanan setiap malam guna mendorong tumbangnya pemerintahan Teheran. Seruan itu disampaikan di tengah eskalasi serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sasaran militer dan kepemimpinan Iran.

Pahlavi yang berbasis di Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa rezim Iran berada di ambang kejatuhan. Ia mengklaim kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada hari pertama perang menandai bahwa pemerintahan saat ini "sedang menghembuskan napas terakhirnya".

"Saya meminta Anda, sambil tetap menjaga keamanan Anda, untuk menunjukkan dukungan terhadap penghancuran Republik Islam melalui nyanyian-nyanyian malam hari dan meneriakkan tuntutan Anda untuk masa depan Iran," tulis Pahlavi di platform X pada Minggu, hari kedua serangan udara oleh AS dan Israel.

Pahlavi, yang belum kembali ke Iran sejak sebelum Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki, menyebut dirinya siap memimpin transisi menuju Iran yang sekuler dan demokratis. "Kekuatan saya berasal dari kekuatan dan dukungan Anda," tulisnya.

Ia juga mendesak para pejabat yang masih setia pada rezim untuk menyerahkan kekuasaan tanpa pertumpahan darah. "Saya menyerukan kepada para pejabat yang tersisa dari republik teror ini untuk menyerahkan kekuasaan secara damai," ujarnya.

Selain itu, Pahlavi mengajak diaspora Iran di luar negeri untuk meningkatkan tekanan internasional. "Paksa dunia untuk mendengar dukungan rakyat Iran terhadap intervensi kemanusiaan ini dan tuntutan kami untuk kejatuhan rezim sepenuhnya," tulisnya.

Konflik yang terus meningkat disebut telah melumpuhkan struktur pemerintahan teokratis Iran setelah serangkaian serangan yang menewaskan sejumlah pemimpin senior. Namun, kubu oposisi Iran masih terpecah. Pahlavi juga menuai kritik atas sikapnya yang dinilai mendukung Israel, termasuk kunjungan publiknya pada 2023 yang memicu perpecahan di kalangan oposisi.

Selain itu, ia dinilai belum secara tegas mengambil jarak dari pemerintahan otokratis ayahnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan lebih dari empat dekade lalu.



Most Popular
Features