Khamenei Tewas, Deretan Tokoh Ini Ambil Alih Kekuasaan Iran
Dafar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Iran mengumumkan skema transisi kekuasaan setelah pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel. Otoritas menyebut mekanisme darurat itu akan dijalankan hingga terpilihnya pemimpin tertinggi baru.
Rencana transisi mencakup pembentukan dewan kepemimpinan sementara yang beranggotakan presiden, kepala kehakiman, serta seorang ahli hukum dari Dewan Penjaga, lembaga yang mengawasi legislasi dan menyeleksi kandidat pemilu.
Di luar dewan tersebut, kepala keamanan nasional disebut memegang peran sentral dalam pengamanan dan koordinasi kebijakan.
Berikut tokoh-tokoh kunci yang mengawasi masa transisi Iran, seperti dikutip AFP, Senin (2/3/2026):
Presiden
Presiden Masoud Pezeshkian (71 tahun) menjadi salah satu dari tiga anggota dewan sementara. Mantan ahli bedah jantung berhaluan reformis ini menjabat sejak Juni 2024 setelah pendahulunya wafat dalam kecelakaan helikopter.
Lahir pada 1954 di Mahabad, Provinsi Azerbaijan Barat, Pezeshkian dikenal sebagai teknokrat dengan gaya kepemimpinan tenang. Ia memimpin pemerintahan di tengah tekanan berat, termasuk perang 12 hari dengan Israel tahun lalu serta gelombang protes akibat kenaikan biaya hidup.
Pada Minggu (1/3/2026), Pezeshkian menyebut pembunuhan Khamenei sebagai eskalasi serius. "Ini adalah deklarasi perang terhadap Muslim. Tanggapan Iran akan menjadi kewajiban dan hak yang sah," ujarnya.
Kepala Kehakiman
Ulama Syiah Gholamhossein Mohseni Ejei juga duduk di dewan kepemimpinan. Pria berusia sekitar 68 tahun tersebut diangkat sebagai kepala peradilan pada 2021 oleh Khamenei.
Ejei menyelesaikan pendidikan Islam di Qom dan memiliki gelar magister hukum internasional. Pada 2010, ia dijatuhi sanksi Amerika Serikat terkait dugaan pelanggaran HAM dalam penindakan pasca pemilu 2009 saat menjabat menteri intelijen.
Usai pembunuhan Khamenei, Ejei menegaskan sikap keras Teheran. "Rezim jahat Amerika dan Zion yang terhina harus tahu bahwa bangsa Iran tidak akan pernah memaafkan darah pemimpinnya yang heroik," katanya.
Ahli Hukum
Anggota dewan lainnya adalah ulama Alireza Arafi (65 tahun), yang memimpin pusat pengelolaan seminari Syiah Iran. Ia juga wakil ketua kedua Majelis Pakar, badan penunjuk dan pengawas pemimpin tertinggi, serta anggota Dewan Penjaga.
Arafi menempuh pendidikan Islam di Qom sejak 1971 dan pernah dipenjara pada usia 16 tahun karena menentang Shah Mohammad Reza Pahlavi. Meski dikenal berhati-hati, Arafi juga menyampaikan pernyataan tegas pasca kematian Khamenei.
"Bangsa ini akan terus menempuh jalan revolusi dan akan membalas darah rakyat, pemuda, dan para mahasiswa," ujarnya.
Kepala Keamanan
Di luar dewan sementara, Ali Larijani (68 tahun) memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Ia dianggap memiliki kedekatan lama dengan Khamenei, berbekal rekam jejak di militer, media, dan parlemen.
Larijani lahir di Najaf, Irak, pada 1957 dari keluarga ulama Syiah berpengaruh yang dekat dengan pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dalam pernyataan terbarunya, Larijani menguraikan langkah transisi pasca-Khamenei dan berjanji akan menyerang Israel dan AS dengan "kekuatan yang belum pernah mereka alami sebelumnya."
(tfa/tfa) Add
source on Google