13 Update Iran: Khamenei Tewas Diserang AS-Minyak Tembus US$ 100/Barel
12.Pertemuan Darurat OPEC
Karena konflik baru di Timur Tengah berisiko menyebabkan harga minyak melonjak tajam, Arab Saudi, Rusia, dan enam anggota kunci lainnya dari aliansi OPEC+ diperkirakan akan mengumumkan peningkatan produksi pada hari Minggu. Pertemuan virtual oleh delapan anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan negara-negara sekutu (OPEC+) yang dikenal sebagai "Delapan Sukarela" (V8) ini berlangsung sehari setelah AS dan Israel melancarkan gelombang serangan berkelanjutan terhadap Iran.
Tahun lalu, kelompok V8, yang terdiri dari Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan OmaN, meningkatkan produksi sekitar 2,9 juta barel per hari (bpd) secara total sebelum mengumumkan jeda tiga bulan dalam peningkatan produksi. Namun kini situasi berubah drastis.
13.Harga Minyak Naik hingga US$ 100 per Barel
Sejumlah analis meyakini harga minyak akan mengalami kenaikan. Dalam jangka pendek, serangan AS kemungkinan akan memicu lonjakan harga yang besar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya bergantung pada seberapa jauh konflik tersebut meningkat.
Konflik tersebut tentu dapat sangat mengganggu pasokan minyak global dan menyebabkan harga minyak melonjak ke level yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Perlu diketahui, Iran adalah produsen minyak yang signifikan, tetapi risiko utama sebenarnya adalah blokade berkepanjangan di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak mentah setiap hari atau sekitar 20% produksi global.
Praktis tidak ada alternatif untuk transportasi minyak mentah. Bahkan menurut Administrasi Informasi Energi AS, hanya Arab Saudi dan UEA yang memiliki jaringan pipa, yang mampu mengangkut maksimal 2,6 juta barel per hari dan memungkinkan minyak untuk melewati Selat Hormuz.
"Meskipun demikian, bahkan jika serangan tetap terbatas, kami pikir harga minyak mentah Brent mungkin naik menjadi sekitar US$80 per barel (sekitar puncaknya selama perang 12 hari pada Juni 2025), dari US$73 per barel kemarin," tulis kepala ekonom pasar negara berkembang di Capital Economics, William Jackson.
"Itu bisa menyebabkan harga minyak melonjak, mungkin hingga sekitar $100 per barel," kata Jackson, kalau Selat Hormuz diblokir untuk jangka waktu yang lama.
(sef/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]