Khamenei Tewas, Iran Bersumpah Balas Dendam Paling Keras ke AS-Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan siap melancarkan pembalasan paling keras menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sikap ini menegaskan tekad Teheran untuk menghukum pihak-pihak yang mereka sebut sebagai pembunuh sang pemimpin.
Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita Fars, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Khamenei.
"Kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya," demikian pernyataan tersebut, dikutip Minggu (1/3/2026).
IRGC menilai kematian Khamenei sebagai "kemartiran di tangan teroris paling kejam dan algojo kemanusiaan," yang disebut justru menegaskan legitimasi serta pengabdian sang pemimpin.
"Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan patut disesalkan bagi para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka," kata IRGC.
Mereka juga menyatakan akan berdiri "tegas dalam menghadapi konspirasi domestik dan asing," serta mengklaim "operasi ofensif paling ganas dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai," sebagaimana disampaikan melalui kanal Telegram resmi.
Sebelumnya, media pemerintah Iran menyiarkan kabar duka kematian Khamenei dengan suasana emosional. Seorang presenter televisi nasional tampak menitihkan air mata saat mengumumkan wafatnya Khamenei. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
"Iran akan memasuki 40 hari berduka," lapor BBC International, mengutip media pemerintah Iran. Dalam laporan tersebut, Khamenei disebut sebagai martir akibat serangan yang dituding dilakukan "rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat" pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat Israel telah lebih dulu mengumumkan bahwa Khamenei tewas dalam serangan yang dilancarkan kedua negara tersebut.
Kematian Khamenei menjadi pukulan besar bagi Republik Islam Iran. Ia memimpin negara itu sejak 1989, satu dekade setelah Revolusi Islam menggulingkan monarki dan mengubah lanskap politik Timur Tengah. Media pemerintah Iran juga melaporkan sejumlah anggota keluarga Khamenei turut menjadi korban, termasuk anak perempuan, cucu perempuan, menantu perempuan, serta menantu laki-laki.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]