Indonesia Masuk Klub Elit dalam Pengawasan Obat dan Makanan Global
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia berhasil mencetak sejarah dalam tata kelola kesehatan global. Pada Desember 2025 lalu, BPOM telah ditetapkan sebagai WHO Listed Authority (WLA) oleh World Health Organization (WHO), yang merupakan bentuk pengakuan tertinggi atas kualitas, integritas, dan kredibilitas sistem regulasi obat dan makanan suatu negara.
Asal tahu saja, pengakuan ini menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator terkemuka yaitu negara-negara maju di dunia, seperti Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia. Negara yang memperoleh status WLA mendapatkan pengakuan internasional, sehingga produk farmasi dan vaksinnya dapat dimasukkan ke dalam daftar produk yang direkomendasikan oleh WHO.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar menuturkan, Indonesia menjadi negara berkembang pertama yang masuk ke daftar WLA. Mengingat, biasanya negara yang mendapat status WLA adalah negara maju.
"Jadi itu kebanggaan saya kira. Oleh karena itu ada manifestasi dampak dari WLA ini, karena tidak mudah mendapatkannya dan tidak semua negara bisa mendapatkannya, maka kita masuk dalam klub elit. Elit untuk mengatur standarisasi pengawasan obat dan makanan global. Jadi dengan demikian keuntungan pertamanya tentu adalah kebanggaan," ujar dia dalam Health Forum dengan tema "BPOM Raih Status WLA, Apa Untungnya Bagi Pelaku Usaha?", Jumat (27/2/2026).
WLA menjadi bukti pengakuan bahwa pengawasan obat dan makanan di Indonesia sudah memiliki standar yang lebih tinggi dibandingkan negara-negara lainnya. Apalagi, beberapa negara besar seperti China, India, dan Rusia belum mendapat status WLA hingga saat ini.
"Kita sudah masuk, artinya standar kita luar biasa. Tingginya kita se-level dengan standar yang ada di Amerika, standar yang ada di Eropa, dan standar negara-negara maju yang sudah masuk dalam list. Nah keuntungan yang pertamanya itu reputasi. Kita jadi referensi. Apa itu referensi? Jadi rujukan," terang dia.
Selanjutnya, Ikrar menjelaskan, status WLA yang didapatkan oleh Indonesia memungkinkannya menjadi rujukan atau penentu standar dunia. Sebab, dari 196 negara di dunia, hanya 30 negara yang mendapatkan WLA.
Jika Indonesia sudah memiliki standar yang sama dengan Amerika dan Eropa, maka kepercayaan pun akan timbul dari publik maupun institusi. Alhasil, produk yang sebelumnya telah disahkan BPOM namun belum dapat masuk ke negara-negara maju, kini telah naik kelas sehingga setiap produk yang distempel BPOM dapat diakui di negara-negara tersebut.
"Nah tentu kompensasinya dia juga bisa masuk ke kita, kita bisa masuk ke tempat, maksudnya produk-produk, obat, makanan, dan termasuk vaksin bisa lintas negara, bisa dipasarkan di negara-negara. Nah kalau dia sudah masuk ke negara yang begitu tinggi standarnya, bagaimana dengan negara level, maturitas level 3, maturitas level 2? Pasti akan mengikuti," jelasnya.
Ikrar juga bilang, apabila sebelumnya pangsa pasar BPOM hanya mencakup 286 juta penduduk Indonesia, kini peluangnya meluas hingga menjangkau lebih dari 8 miliar penduduk dunia. Perluasan ini akan memberikan dampak ekonomi yang besar lantaran Indonesia dapat membuka pasar yang lebih luas dan menciptakan efek berganda pada masa depan.
"Kemudian dari aspek yang lain tentu ada aspek yang lebih spesifik lagi. Kita bisa sebagai referensi, sebagai standar, sebagai reliance, yang paling penting kita bisa jadikan ini sebagian bagian bargain atau diplomasi kesehatan secara global. Jadi kita menjadi pemain global, bukan lagi pemain jago kandang," tandas dia.
(rah/rah) Add
source on Google