Industri di Bawah Pengawasan BPOM Catat Revenue Hingga Rp10 Ribu T
Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar menyebutkan industri di bawah pengawasan BPOM berkontribusi sebesar 30%-40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah ini mencapai Rp 6 ribu triliun sampai 10 ribu triliun setiap tahun.
"Dan itu tentu hubungannya dengan revenue,hubungannya dengan industri yang ada di bawah Badan POM," ungkap dia
Taruna menjelaskan terdapat jutaan industri yang berada dalam otoritas BPOM. Adapun sebanyak 55 ribu industri dengan skala besar memiliki pendapatan ratusan triliun.
"Kemudian ada industri kecil, mikro, dan menengah itu 1,7 juta industri. Jadi kalau revenue-nya digabung-gabung, masuk akal. Angka yang 6 ribu sampai 10 ribu triliun," terang Taruna.
Diketahui, industri yang wajib memiliki izin BPOM meliputi produsen makanan/minuman olahan kemasan (skala menengah-besar/risiko tinggi), obat-obatan (termasuk tradisional/jamu), kosmetik, suplemen kesehatan, dan alat kesehatan. Izin tersebut diperlukan untuk memastikan keamanan dan mutu produk yang beredar di Indonesia.
Besarnya kontribusi industri tersebut membuat BPOM ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sebagai WHO Listed Authority (WLA) dalam regulasi produk medis (vaksin).
Pengakuan ini menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator terkemuka yaitu negara-negara maju di dunia, seperti Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia.
"Tahun ini mulai dari Desember kemarin Indonesia sudah masuk.Berarti kita negara berkembang pertama, negara yang punya penghasilan menengah pertama yang mendapatkan WLA, selebihnya negara-negara maju," ungkapnya.
Dia menegaskan bahwa status WLA merupakan prestasi sebab capaian ini tidak mudah diraih bagi banyak negara.
"Jadi dengan demikian keuntungan pertamanya tentu adalah kebanggaan. Ini reputasi. Reputasi apa? Maknanya bahwa pengawasan obat dan makanan di Indonesia itu sudah memiliki standar yang tertinggi," pungkas Taruna.
(dpu/dpu) Add
source on Google