Ikut Langkah RI, Raksasa Lithium Dunia Ban Ekspor-Ngotot Hilirisasi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Zimbabwe secara resmi menangguhkan seluruh aktivitas ekspor mineral mentah dan konsentrat lithium yang berlaku efektif segera. Kebijakan drastis ini menandai pergeseran besar dalam peta jalan pertambangan negara tersebut yang bertujuan untuk mendorong pengolahan lokal serta memperketat pengawasan terhadap sektor tambang di negara Afrika Selatan tersebut.
Menteri Pertambangan Zimbabwe, Polite Kambamura, memberikan keterangan kepada wartawan pada hari Rabu bahwa larangan ini juga berlaku bagi pengiriman yang saat ini tengah berada dalam perjalanan. Menurutnya, instruksi tersebut akan tetap diberlakukan hingga pemberitahuan lebih lanjut dari otoritas terkait.
Kambamura menegaskan bahwa langkah tegas ini diambil demi kepentingan nasional. Ia menyebutkan adanya temuan mengenai berbagai praktik malapraktik yang meluas serta kebocoran ekspor dalam perdagangan mineral mentah yang selama ini merugikan negara.
"Langkah-langkah ini diterapkan untuk meningkatkan penambahan nilai mineral lokal dan hilirisasi, serta untuk meningkatkan akuntabilitas manusia, mempromosikan manfaat lokal, dan memaksimalkan retensi nilai di dalam negeri," ujar Kambamura dalam pernyataan resminya dikutip Russia Today, Kamis (26/2/2026).
Zimbabwe saat ini menyandang status sebagai produsen lithium terbesar di Afrika, yang merupakan komponen kunci dalam baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi terbarukan. Berdasarkan laporan Reuters, pada tahun 2025 saja, negara ini telah mengekspor lebih dari 1,1 juta metrik ton konsentrat spodumene yang mengandung lithium, dengan sebagian besar pengiriman ditujukan ke pasar China.
Direktif baru ini memperluas rencana pemerintah sebelumnya untuk membatasi ekspor lithium yang tidak diolah. Otoritas Zimbabwe kini semakin gencar mendesak perusahaan-perusahaan pertambangan untuk segera membangun pabrik pengolahan atau smelter di dalam wilayah mereka.
Pasar komoditas global langsung bereaksi terhadap pengumuman ini, di mana harga lithium di China melonjak tajam. Kontrak lithium karbonat yang paling aktif diperdagangkan di Bursa Berjangka Guangzhou melonjak lebih dari 6% pada hari Kamis. Perusahaan-perusahaan raksasa China, termasuk Zhejiang Huayou Cobalt dan Sinomine yang merupakan investor utama di Zimbabwe, sebelumnya telah berkomitmen untuk membangun fasilitas pengolahan lokal.
Kementerian Pertambangan Zimbabwe menyatakan bahwa hambatan ekspor ini hanya akan dicabut jika para penambang telah mematuhi persyaratan ketat dari pemerintah. Hal ini menjadi peringatan bagi para investor agar segera merealisasikan janji investasi hilirisasi mereka.
Langkah Harare ini mengikuti jejak kebijakan serupa yang diambil oleh negara-negara tetangganya. Malawi telah melarang ekspor mineral yang tidak diolah pada Oktober lalu, sementara Namibia melarang ekspor bijih mentah dalam jumlah besar sejak tahun 2023 demi mendorong manfaat domestik.
Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, yang merupakan salah satu kritikus vokal terhadap ekspor bahan mentah, terus mendesak pemerintah di Afrika untuk memperluas kapasitas pengolahan domestik. Usai KTT Uni Afrika di Addis Ababa pada 15 Februari lalu, ia menegaskan bahwa sudah saatnya benua tersebut berhenti mengirimkan kekayaan alamnya tanpa nilai tambah.
"Afrika tidak boleh lagi mengekspor batu, tanah, dan debu tanpa mendapatkan keuntungan dari pemurnian dan manufaktur di hilir," tegas Ramaphosa.
(tps/tps) Add
source on Google