Internasional

Mediator Buka-Bukaan Fakta Perundingan AS-Iran, Jadi Bakalan Perang?

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Jumat, 27/02/2026 06:10 WIB
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mediator dari Oman akhirnya buka suara terkait hasil pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Jenewa, Swiss. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan hebat di Timur Tengah dan penumpukan kekuatan militer besar-besaran oleh Washington di wilayah tersebut yang memicu kekhawatiran pecahnya perang terbuka.

Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, mengungkapkan kondisi terkini dari dialog yang melibatkan utusan Presiden Donald Trump dan delegasi Teheran tersebut. Melalui pernyataan resminya, Albusaidi mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah menyelesaikan sesi diskusi yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari dengan dinamika yang sangat intens.

"Kami telah menyelesaikan hari ini setelah adanya kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran," ujar Albusaidi dalam unggahannya di media sosial X setelah pertemuan berakhir pada Kamis (26/2/2026) waktu setempat dikutip Reuters.


Menurut sang mediator, pertemuan tersebut telah menghasilkan kerangka komunikasi yang lebih jelas dibandingkan sebelumnya. Albusaidi menyebutkan bahwa pihak AS dan Iran telah saling bertukar gagasan yang konstruktif untuk memecahkan kebuntuan nuklir yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

"Kedua belah pihak telah bertukar ide-ide yang kreatif dan positif selama sesi pembicaraan berlangsung," tambah Albusaidi saat menggambarkan suasana di dalam ruang perundingan.

Meskipun Albusaidi memberikan penilaian yang optimistis, ia belum memberikan kepastian apakah hambatan-hambatan besar untuk mencapai kesepakatan final sudah sepenuhnya teratasi. Namun, ia memastikan bahwa komunikasi tidak berhenti di Jenewa dan akan segera berlanjut ke tahap teknis yang lebih spesifik pada pekan depan di Wina.

Pernyataan senada juga datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang berbicara kepada televisi pemerintah Iran. Araqchi mengakui bahwa meskipun ada titik temu, jalan menuju kesepakatan utuh masih menghadapi tantangan pada beberapa isu krusial yang masih diperdebatkan oleh kedua negara.

"Kami mencapai kesepakatan mengenai beberapa isu, dan terdapat perbedaan mengenai beberapa isu lainnya. Diputuskan bahwa putaran negosiasi berikutnya akan berlangsung segera, dalam waktu kurang dari satu minggu," kata Araqchi menjelaskan hasil pertemuan tersebut.

Araqchi menegaskan bahwa posisi Iran tetap konsisten, terutama terkait tuntutan penghapusan sanksi ekonomi yang mencekik Teheran. Ia menyampaikan bahwa fleksibilitas yang ditunjukkan Iran tetap berpegang pada pengakuan hak nuklir mereka, sementara Washington tetap meminta konsesi mendalam sebelum sanksi dapat dicabut.

"Pihak Iran telah menyatakan dengan jelas tuntutan kami untuk pencabutan sanksi-sanksi AS," tutur Araqchi mengenai substansi pembicaraan di Jenewa.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump terus memberikan tekanan tinggi dengan menetapkan tenggat waktu yang singkat bagi Iran untuk tunduk pada kesepakatan baru. Dalam beberapa kesempatan, Trump memperingatkan konsekuensi militer jika jalur diplomasi ini menemui jalan buntu.

"Iran harus membuat kesepakatan dalam 10 hingga 15 hari ke depan, jika tidak, hal-hal yang sangat buruk akan terjadi," tegas Trump dalam pernyataannya pada 19 Februari lalu.

Meski ancaman serangan militer terus membayangi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencoba meredakan situasi dengan merujuk pada ketetapan agama yang berlaku di negaranya. Ia menekankan bahwa program nuklir Iran tidak ditujukan untuk militer sesuai dengan arahan pemimpin tertinggi mereka.

"Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah melarang senjata pemusnah massal, yang secara jelas berarti Teheran tidak akan mengembangkan senjata nuklir," ungkap Pezeshkian pada Kamis kemarin.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pekan Ini, Iran-AS Lanjut Negosiasi Nuklir di Jenewa