MARKET DATA
Internasional

Trump "Pede" Bisa Hancurkan Iran, Pentagon Justru Dibayangi Keraguan

luc,  CNBC Indonesia
26 February 2026 20:30
Kapal induk USS Gerald R. Ford tiba di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, 23 Februari 2026. (REUTERS/Stelios Misinas)
Foto: Kapal induk USS Gerald R. Ford tiba di Teluk Souda di pulau Kreta, Yunani, 23 Februari 2026. (REUTERS/Stelios Misinas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik ancaman terbuka Washington untuk kembali menggempur Iran, perdebatan paling menentukan justru berlangsung senyap di tubuh Pentagon.

Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine dalam beberapa pekan terakhir menyusun berbagai opsi militer yang bisa dijalankan terhadap Teheran. Pilihan ini mulai dari serangan terbatas hingga skenario ekstrem perubahan kepemimpinan, sembari berhitung cermat atas risiko korban, eskalasi regional, dan dampak jangka panjang bagi militer AS.

Dilansir CNN International, Kamis (26/2/2026), Alih-alih membahasnya di ruang konferensi superaman Pentagon yang dikenal sebagai "Tank", Caine memilih memanggil satu per satu pejabat tinggi Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara langsung ke kantornya.

Dalam pemerintahan yang sangat sensitif terhadap kebocoran, mengumpulkan para petinggi secara mendadak di pusat saraf Departemen Pertahanan dikhawatirkan memicu kecurigaan. Sejumlah sumber menyebut, Caine, yang dikenal sangat menjaga kerahasiaan, ingin meminimalkan sorotan saat opsi-opsi sensitif itu diramu.

Di berbagai pertemuan internal tersebut, Caine disebut vokal mengangkat potensi dampak negatif dari operasi besar terhadap Iran. Ia menyoroti skala dan kompleksitas misi, serta kemungkinan jatuhnya korban di pihak AS.

Kekhawatiran itu, menurut sumber yang mengetahui nasihatnya, tidak sepenuhnya sejalan dengan retorika Gedung Putih. Presiden Donald Trump kerap menyatakan optimisme bahwa militer AS dapat meraih kemenangan dengan mudah, meski parameter "kemenangan" belum didefinisikan secara rinci.

Meski demikian, dalam sebulan terakhir Caine juga mengoordinasikan pengerahan kekuatan militer terbesar AS di Timur Tengah sejak invasi Irak. Opsi yang disiapkan beragam, mulai dari serangan ke fasilitas rudal balistik dan nuklir Iran, hingga kemungkinan menargetkan kepemimpinan tertinggi Iran untuk memaksa perubahan rezim. Semua disusun paralel dengan jalur diplomasi yang dijadwalkan kembali berlangsung pekan ini.

Dalam satu rapat Situation Room yang berlangsung tiga kali lebih lama dari jadwal, Caine disebut tidak dapat memprediksi secara pasti konsekuensi dari operasi perubahan kekuasaan di Iran. Ketidakpastian tentang "hari setelahnya", siapa yang akan memimpin dan bagaimana stabilitas dijaga, menjadi variabel yang sulit dijawab tuntas.

Juru bicara Staf Gabungan Joe Holstead membantah anggapan bahwa Caine menahan diri dalam menyampaikan pendapat. Ia menegaskan Caine "tidak pernah menahan pukulan" ketika membahas opsi militer yang bisa mengirim pasukan AS ke medan berbahaya.

"Peran Ketua Kepala Staf Gabungan dan pendekatan Ketua saat ini didasarkan pada mandat undang-undang untuk memberikan nasihat militer kepada Presiden, Menteri Perang, dan Dewan Keamanan Nasional," ujarnya. "Ketua memenuhi tanggung jawab ini dengan menyajikan spektrum penuh opsi militer, disertai pertimbangan yang tepat dan matang atas dampak lanjutan, implikasi, dan risiko dari setiap opsi. Ia melakukannya secara rahasia."

Gedung Putih juga membela Caine. Juru bicara Anna Kelly menyebutnya sebagai "seorang profesional yang sangat dihormati, yang tugasnya mengharuskan memberikan informasi tanpa bias kepada Panglima Tertinggi, dan ia melakukannya dengan sempurna."

"Setiap anggapan bahwa Ketua memberikan opini pribadi atau politik, dalam bentuk apapun, sepenuhnya tidak benar," kata Kelly. "Dalam semua isu, Presiden Trump mendengarkan masukan dari seluruh anggota tim keamanan nasionalnya, dan ia selalu menjadi pengambil keputusan akhir."

Trump sendiri menegaskan kepercayaannya melalui media sosial. "Jenderal Caine, seperti kita semua, tentu tidak ingin melihat perang, tetapi jika keputusan diambil untuk melawan Iran pada tingkat militer, menurut pendapatnya itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan," tulis Trump.

"Ia hanya tahu satu hal, yaitu bagaimana MENANG dan, jika diperintahkan, ia akan memimpin di garis depan."

Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine. (JOE RAEDLE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine. (JOE RAEDLE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Pendekatan Caine berbeda dari pendahulunya, Jenderal Mark Milley, yang kerap berbenturan langsung dengan Trump pada periode pertama. Milley diketahui berselisih soal pengerahan militer untuk meredam protes domestik dan, menurut sejumlah laporan, secara pribadi berupaya meredam retorika presiden guna menenangkan sekutu maupun lawan.

Caine memilih jalur lebih hati-hati. Ia berupaya menjaga pengaruhnya dengan tidak terlalu konfrontatif di ruang publik, sembari tetap memberikan penilaian profesional di ruang tertutup. Seorang sumber yang memahami interaksinya dengan Trump menilai, "Ia jelas menahan pukulan," merujuk pada perbedaan nada antara diskusi internal dan percakapan di Gedung Putih.

Di sisi lain, ada pula pandangan yang menilai Caine menjalankan perannya secara tepat dengan memberi opsi, bukan mendikte kebijakan. Ia dikenal jarang mengungkap opini pribadi atas kebijakan, dan para pendukungnya menilai itulah tugas seorang ketua, memfasilitasi agenda presiden dengan nasihat militer terbaik, tanpa mengklaim kewenangan politik.

Ketegangan internal juga muncul dalam isu personel. Caine beberapa kali mencoba membujuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth agar tidak memaksa pensiun dini sejumlah perwira tinggi. Namun keputusan tetap berjalan. Seorang perwira senior yang baru pensiun menggambarkan dilema tersebut.

"Pada akhirnya, orang-orang seperti Caine dan para pemimpin matra memang tidak senang dengan situasi itu .... tetapi ia memahami bahwa itu sah dan memang begitulah sistemnya. Untuk berbuat lain, lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Situasinya memang sulit," ujarnya. "Tetapi saya pikir memang ada luka moral yang terjadi pada para pemimpin senior kita."

Upaya Caine menjaga netralitas militer juga terlihat dalam sebuah acara September lalu, ketika ratusan perwira tinggi dipanggil untuk mendengarkan pidato Hegseth dan Trump. Secara pribadi, Caine berpesan agar para jenderal dan laksamana tidak bersorak atau bereaksi berlebihan.

"Jangan bertepuk tangan, jangan bereaksi, dan bersikaplah setenang saat pidato Kenegaraan Presiden, sesuai norma militer yang nonpartisan," demikian pesannya, menurut dua pejabat militer. Trump sempat berkomentar, "Saya belum pernah masuk ke ruangan yang begitu sunyi sebelumnya. Jika ingin bertepuk tangan, bertepuk tanganlah."

Jalur karier Caine sendiri tidak lazim. Ia pensiun sebagai letnan jenderal bintang tiga pada Desember 2024, lalu dipanggil kembali dan dipromosikan melampaui 38 jenderal serta laksamana aktif berbintang empat yang memenuhi syarat. Ia belum pernah memimpin komando kombatan maupun menjadi kepala staf matra, jalur umum bagi para ketua sebelumnya.

Trump pernah mengeklaim bahwa saat pertama bertemu di Irak pada 2018, Caine mengatakan ia "mencintai" Trump dan akan "membunuh untuk Anda" sambil mengenakan topi MAGA. Dalam sidang konfirmasi, Caine membantah kejadian itu.

Ia menegaskan bahwa melawan politisasi militer "dimulai dengan memberi contoh yang baik dari atas dan memastikan kita nonpartisan, tidak berpihak, dan menyampaikan kebenaran kepada kekuasaan setiap hari."

Di tengah dorongan presiden yang kerap mendorong batas legal penggunaan militer, termasuk pengerahan pasukan ke kota-kota di dalam negeri dan serangan tanpa otorisasi Kongres, Caine tetap menyusun opsi yang diminta. Seorang ajudan Kongres dari Partai Republik membandingkan pendekatannya dengan Milley.

"Milley selalu ingin terlihat sebagai orang dewasa di ruangan, melindungi dunia dari presiden yang dipilih secara demokratis," katanya. "Bagi saya itu sangat tidak pantas."

Meski jarang tampil, Caine sempat menjadi wajah publik dalam beberapa operasi besar, termasuk penjelasan teknis tentang penggunaan bom GBU-57 seberat 30.000 pon terhadap fasilitas nuklir Iran.

Ia memaparkan detail misi dan memuji para pilot yang menerbangkan B-2 dalam penerbangan 18 jam. Dalam kesempatan lain, ia menjelaskan operasi penangkapan mantan presiden Venezuela dengan gaya naratif yang dramatis.

Namun, pada akhirnya, peran Caine tetap sama, menyodorkan pilihan dengan kalkulasi risiko yang jelas, tanpa memaksakan preferensi pribadi. Seperti dikatakan Holstead, Caine "tidak menganjurkan satu jalur tindakan tertentu, dan tidak menyuntikkan preferensi pribadi dalam pertimbangan operasional."

Kini, ketika opsi serangan terhadap Iran berada di meja presiden, Caine kembali berada di titik keseimbangan yang rapuh, antara loyalitas pada konstitusi dan kepercayaan presiden yang memegang keputusan akhir. Di tengah tekanan politik dan risiko militer, nasihatnya bisa menjadi penentu apakah krisis berikutnya akan berhenti di meja diplomasi atau berubah menjadi konflik berskala besar.

 

(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Awas! Trump Akhirnya Deklarasi 'Perang' Dengan Kelompok Ini


Most Popular
Features