Internasional

Wow! Banyak Warga Korsel Nikah, Ada Tanda Negara Bisa Selamat

tfa, CNBC Indonesia
Rabu, 25/02/2026 21:20 WIB
Foto: Bendera Korea Selatan (AFP/JUNG YEON-JE/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Korea Selatan (Korsel) mencatat peningkatan angka kelahiran tahunan terbesar dalam 15 tahun terakhir pada 2025. Meski demikian, tingkat kelahiran negara tersebut masih jauh di bawah ambang batas kesuburan yang dibutuhkan untuk menahan laju penyusutan populasi, namun ini menjadi secercah harapan di negeri itu.

Data resmi yang dirilis Rabu (25/2/2026) oleh Kementerian Data dan Statistik Korsel menunjukkan angka kelahiran tahunan naik lebih dari 6% pada periode 2024-2025. Kenaikan ini menjadi yang paling tajam sejak 2010 dan menandai tahun kedua berturut-turut terjadinya peningkatan kelahiran di negeri itu.

Meski meningkat, tingkat kesuburan atau jumlah rata-rata anak yang dilahirkan setiap perempuan, hanya naik tipis dari 0,75 menjadi 0,8. Angka ini masih jauh di bawah ambang batas 2,1 yang diperlukan untuk mempertahankan jumlah penduduk saat ini sekitar 51 juta jiwa.


Lalu apa yang menyebabkan kelahiran naik?

Pejabat kementerian menyebut lonjakan pernikahan menjadi faktor utama di balik kenaikan kelahiran. Di Korsel, status orang tua tunggal masih kerap distigmatisasi, sehingga sebagian besar kelahiran terjadi dalam ikatan pernikahan. 

"Jumlah pernikahan meningkat selama 21 bulan berturut-turut dari April 2024 hingga Desember tahun lalu karena pasangan yang menunda pernikahan mereka akibat pandemi Covid-19 akhirnya menikah," kata pejabat statistik Park Hyun-jeong kepada wartawan, seperti dikutip AFP.

Para ahli menilai rendahnya tingkat kelahiran dipicu berbagai faktor, mulai dari tingginya biaya membesarkan anak hingga budaya masyarakat yang sangat kompetitif, yang membuat pekerjaan bergaji tinggi sulit diperoleh. Beban ganda yang ditanggung ibu bekerja, seperti mengelola pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak sambil mempertahankan karier, juga disebut sebagai faktor kunci.

Pemerintah di Seoul telah menggulirkan berbagai kebijakan untuk mengatasi krisis demografi, termasuk bantuan tunai, dukungan pengasuhan anak, serta subsidi perawatan infertilitas. Namun, dengan tingkat kesuburan yang masih jauh dari ideal, tantangan penurunan populasi diperkirakan tetap membayangi dalam jangka panjang.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Pastikan QRIS Lintas Negara China & Korsel Segera Meluncur