Terbongkar! Ini 2 Masalah Utama, Alasan Agrinas Impor Pikap-Truk India

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Rabu, 25/02/2026 16:15 WIB
Foto: Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) Joao Angelo De Sousa Mota. (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan impor 105 ribu kendaraan operasional untuk Koperasi Desa Merah Putih memantik polemik. Di satu sisi, manajemen PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) mengklaim langkah tersebut menghasilkan efisiensi puluhan triliun rupiah. Di sisi lain, kalangan industri menilai kebijakan itu berpotensi memukul produsen otomotif dalam negeri.

Direktur Utama Agrinas Joao Angelo De Sousa Mota, menyatakan pengadaan kendaraan dari India dilakukan setelah negosiasi dengan produsen lokal tidak mencapai titik temu, terutama terkait harga dan kapasitas produksi. Total kendaraan yang akan didatangkan mencapai 105 ribu unit, terdiri dari 35 ribu pikap 4x4 dari Mahindra & Mahindra serta 70 ribu unit dari Tata Motors, masing-masing 35 ribu pikap dan 35 ribu truk roda enam.

"Bahwa dengan pengadaan sarana-prasarana ini, Agrinas Pangan bisa melakukan efisiensi sebesar Rp46,5 triliun," kata Joao dalam keterangannya kepada media dikutip Rabu (25/2/2026).


Agrinas telah mengundang sejumlah produsen otomotif nasional untuk mengikuti proses kualifikasi dan negosiasi. Beberapa di antaranya berasal dari grup besar seperti Astra, Isuzu, Mitsubishi, hingga Hino.

Negosiasi Pasokan dan Harga Jadi Masalah Utama

Namun kemampuan pasokan dinilai jauh dari kebutuhan.

Isuzu disebut hanya sanggup menyediakan 900 unit, Toyota melalui Hilux sekitar 800 unit pada periode April-Mei 2026, sementara Mitsubishi L300 diklaim mampu memproduksi sekitar 750 unit per bulan. Hino awalnya hanya 120 unit per bulan sebelum akhirnya ditingkatkan menjadi total 10 ribu unit setelah lobi dengan prinsipal di Jepang.

Secara total, dari proses negosiasi tersebut produsen lokal disebut hanya mampu memenuhi sekitar 45 ribu unit. Rinciannya antara lain Mitsubishi Fuso 20.600 unit, Foton Aumark 13.500 unit, Hino 10 ribu unit, dan Isuzu Canter 900 unit. Keterbatasan kapasitas ini, ditambah persoalan harga, menjadi alasan impor dipilih.

"Yang menjadi isu utama itu adalah bahwa kami membeli dalam jumlah besar. Sehingga kami menawarkan secara bulk, kami membeli secara gelondongan. Harusnya kan kita diberi harga yang lebih ekonomis, harusnya harga yang lebih efektif dan lebih memenuhi anggaran yang sudah kami siapkan," ujar Joao.

Ia mengklaim produsen lokal tetap menghitung harga per unit dan tidak memberikan skema harga khusus untuk pembelian dalam jumlah besar.

"Tapi sampai dengan terakhir kami tidak mendapatkan atau dikasih kesempatan untuk memberikan dengan harga yang khusus sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar," ujarnya.

Agrinas juga beralasan tidak ada produksi pikap single cabin 4x4 di dalam negeri yang sesuai kebutuhan program. Kendaraan-kendaraan tersebut akan digunakan untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih yang tengah dibangun pemerintah.

Perusahaan mengantongi pendanaan Rp200 triliun dari bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk pembangunan gerai serta pengadaan sarana-prasarana koperasi. Hingga kini sekitar Rp90 triliun telah terserap, termasuk untuk pengadaan kendaraan.

Joao membantah anggapan bahwa kebijakan impor tidak berpihak pada industri nasional. Ia menegaskan seluruh proses pengadaan dilakukan secara terbuka dan terdokumentasi.

"Penghematan yang kami lakukan ini kami kembalikan kepada negara. Karena uang yang kami gunakan adalah uang APBN dan uang rakyat. Jadi akan kami kembalikan sepenuhnya," katanya.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Utang Impor 105 Ribu Pickup India, Dicicil Rp 40 Triliun/tahun