Purbaya Minta Harga Gas Blok Masela untuk Industri Domestik Kompetitif

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Rabu, 25/02/2026 16:45 WIB
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat mengikuti Sidang Debottlenecking Membahas Investasi LNG Blok Masela di Jakarta, Selasa (24/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kementerian Keuangan RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan sekaligus Wakil Ketua I Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) atau Satgas Debottlenecking Purbaya Yudhi Sadewa menginstruksikan agar harga gas yang diproduksikan Inpex Masela Ltd di proyek Blok Masela, Maluku dapat lebih kompetitif. Terutama, untuk sektor industri pengguna gas dalam negeri.

Purbaya menilai harga gas pipa Blok Masela dalam rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD) sekitar US$6,8 per MMBTU sudah cukup bagus. Namun demikian, industri berpotensi mendapatkan harga gas yang lebih tinggi dari angka tersebut, terutama bila mendapatkan gas alam cair (LNG).

Oleh sebab itu, ia pun meminta SKK Migas dapat memastikan agar perusahaan penyedia infrastruktur jaringan gas seperti PT Perusahaan Gas Negara (PGN) tidak melakukan mark up terlalu tinggi dalam memasok gas ke industri.


"Tapi kalau dikasih ke PGN jangan-jangan di-mark up lagi, jadi sampai ke pasarnya juga US$12-13 per MMBTU. Bisa enggak dicari nanti ke depan skema yang bagus, sehingga domestik industri dalam negeri bisa menikmati dengan harga yang lebih kompetitif? Itu yang mesti dipikirin SKK nanti ya?" kata Purbaya dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasonal Onshore LNG Abadi Masela di Kementerian Keuangan, Selasa (24/2/2026).

Sementara itu, untuk harga gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) Blok Masela, Purbaya juga meminta agar harganya dapat dikontrol di sekitar US$9 per MMBTU. Adapun, di dalam rencana pengembangan (Plan of Development/PoD), harga LNG dari Blok Masela ini ditetapkan sekitar 13,5% dari harga minyak mentah Indonesia (ICP).

"Kalau lewat PGN, baru ke industrinya, PGN ambil untung bisa banyak tuh. Bisa enggak dikontrol supaya let's say di 9 dolar, sekian persen dari harga harga mentahnya ke industri," kata dia.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, dalam Rencana Pengembangan atau Plan of Development (PoD) Blok Masela, harga gas pipa dari Blok Masela ini diperkirakan US$ 6,8 per MMBTU. Namun, untuk gas alam cair (LNG), dia menyebut LNG akan dialokasikan 40% untuk pasar domestik dan 60% untuk pasar ekspor. Harga jual LNG, berdasarkan PoD, menurutnya ditetapkan 13,5% dari harga minyak mentah Indonesia (ICP).

Untuk pembeli gas domestik, menurutnya Inpex sudah menandatangani perjanjian awal atau Head of Agreement (HoA) dengan sejumlah perusahaan, antara lain PT PLN (Persero), PT PGN Tbk, dan PT Pupuk Indonesia. Namun, HoA ini masih belum mengikat (non-binding).

"Untuk Pupuk, PLN, PGN, itu tahun lalu kita sudah HoA tapi non-binding, Pak. Jadi sudah setahun, kita berharap tahun ini bisa PJBG (Perjanjian Jual Beli Gas)-lah gitu. Kemudian mengenai harga, di PoD kita untuk yang gas pipa itu US$ 6,8 per MMBTU," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.

Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) Masela yang ditandatangani Inpex Masela Ltd pada 1998 lalu dan telah diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 MMTPA (juta metrik ton per tahun) LNG dan 150 MMSCFD (juta kaki kubik standar per hari) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.

Konsep pengembangan lapangan greenfield (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan clean LNG melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.

Struktur Pemegang Hak Partisipasi

Inpex Masela Ltd merupakan operator, sekaligus pemegang hak partisipasi (Participating Interest/ PI) terbesar di Blok Masela yakni mencapai 65%.

Sebelumnya, Inpex ditemani oleh Shell Upstream Overseas Services dengan saham 35%. Namun sayangnya, Shell memutuskan hengkang dari proyek gas abadi yang berlokasi di Maluku itu.

Adapun 35% saham Shell tersebut sejak Juli 2023 lalu telah diambil oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas 15%.

Perjanjian jual beli hak partisipasi dari Shell ke Pertamina dan Petronas ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan PI diperoleh pada 4 Oktober 2023.

Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.

Setelah kontrak bagi hasil ditandatangani pada 1998, akhirnya Inpex menemukan cadangan gas jumbo di Blok Masela ini pada tahun 2000.

Setelah 19 tahun kemudian, baru lah Pemerintah Indonesia memberikan persetujuan atas Rencana Pengembangan atau Plan of Development (PoD) pertama (PoD-I) kepada Inpex untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA) dari Kilang LNG Masela, dan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.

Konsep pengembangan lapangan green field (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deep water, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan energi bersih melalui penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.

Penerapan CCS ini pun disetujui Pemerintah Indonesia pada 28 November 2023, melalui Revisi 2 PoD-I. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan tender FEED. Hingga akhirnya, Rabu, 9 April 2025, Inpex meluncurkan FEED OLNG ini.

Berikut jejak penting Proyek Gas Lapangan Abadi, Blok Masela:

1998: Kontrak bagi hasil (PSC) ditandatangani oleh Inpex

2000: Penemuan cadangan gas jumbo di Blok Masela

2019: Persetujuan Rencana Pengembangan Pertama (PoD-I) oleh Pemerintah Indonesia, untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas bumi, dan 35.000 bph kondensat.

2023: Shell hengkang, Pertamina dan Petronas masuk memegang hak partispasi masing-masing 20% dan 15%. Kemudian, Revisi 2 POD-I disetujui Pemerintah Indonesia, karena memasukkan fasilitas CCS.

2025: FEED OLNG resmi diluncurkan.

2026: Februari 2026, KLH mengeluarkan dan menyerahkan persetujuan dokumen AMDAL Blok Masela kepada Inpex Masela Ltd.


(ven/wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Investasi Proyek Gas Raksasa Investor Italia Segera Meluncur