AHY Kasih Peringatan, Petaka Ini Sudah Renggut Nyawa 829.000 Orang
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia saat ini nyaris mengalami krisis air dan merenggut banyak korban jiwa akibat hal tersebut.
Hal ini diungkap oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono dalam Water Townhall Meeting di kantornya, Selasa (24/2/2026).
Menko yang kerap disapa AHY ini mengungkapkan sebanyak 50% populasi global sempat mengalami kelangkaan air bersih.
Bahkan menurutnya, masalah kelangkaan air bersih menimbulkan korban jiwa hingga 829 ribu orang
"Hari ini, 50% dari populasi global menghadapi water scarcity yang parah, kondisinya tidak baik-baik saja. Ini perlu kita waspadai, karena sudah menimbulkan korban jiwa hingga 829 ribu orang," kata AHY dalam paparannya, Selasa (24/2/2026).
AHY menjelaskan, banyaknya korban jiwa terjadi karena kekurangan sumber air bersih, termasuk air minum.
"Ini karena kekurangan air bersih, baik itu untuk air minum, kemudian juga untuk sanitasi dan juga sesuatu yang berkaitan dengan higienisnya," lanjut AHY.
Sementara di Indonesia, AHY juga memaparkan sejauh ini 43,5% wilayah di Indonesia mengalami rasio ketersediaan air yang rendah. Hal ini terjadi karena cadangan air bersihnya secara tahunan maupun mingguan mengalami kekurangan pasokan.
Dari paparannya wilayah yang mengalami rasio ketersediaan air yang rendah ada di sekitar utara Banten, Jakarta, Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Timur dan Madura, jajaran Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Sulawesi Selatan.
Sementara itu, 28,7% wilayah Indonesia lainnya rasio ketersediaan airnya berada di level menengah. Cadangan air tahunannya cukup untuk memenuhi kebutuhan air, hanya saja secara cadangan mingguan di waktu tertentu mengalami kekurangan pasokan air.
Dalam paparan yang sama tampak wilayah yang rasio ketersediaan airnya berada di level menengah ada di sekitar Selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Lampung, kawasan utara Sumatera, dan selatan Sulawesi.
Hanya sekitar 27,7% wilayah yang mengalami rasio ketersediaan air yang cukup baik di seluruh Indonesia. Tersebar di kawasan Sumatera, Kalimantan, Papua, sebagian besar Sulawesi, dan Kepulauan Maluku.
Menurutnya, Indonesia bagaikan mengalami ilusi air bersih yang melimpah. Padahal, di pulau dengan penduduk terpadat rasio ketersediaan airnya rendah dan menengah.
"Kadang-kadang ini kembali tadi ada ilusi kita melimpah air bersih padahal 140 atau 160 juta penduduk Indonesia tinggal di pulau Jawa ini," jelas AHY.
Sementara itu, menurut Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Bob Arthur Lombogia, neraca ketersediaan air di Indonesia umumnya mengalami surplus.
Hal ini terlihat di beberapa kawasan macam pulau Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi Maluku, dan Papua.
Sayangnya, Pulau Jawa dan Bali neraca airnya mengalami defisit. Ketersediaan air di dua wilayah ini jumlahnya lebih sedikit daripada kebutuhan airnya.
"Jawa dan Bali ini mengalami defisit. Khususnya di Jabodetabek," kata Bob.
Sejauh ini, menurutnya, potensi air permukaan Indonesia cukup besar jumlahnya mencapai 2.967,7 miliar meter kubik per tahun.
Namun masalahnya adalah air sebanyak itu tidak menjamin ketersediaan air merata karena hanya sekitar 1.845,7 miliar meter kubik yang tertampung, baik penampungan alami maupun buatan.
Hal ini karena air-air ini seringkali tak tertampung dan hanya mengalir begitu saja ke laut. Masalah berikutnya adalah distribusi air antar pulau juga sulit dilakukan, ketika air surplus di suatu daerah tak bisa dialihkan ke daerah lainnya apalagi bila berbeda pulau.
"Potensi air permukaan Indonesia mencapai 2.967,7 miliar meter kubik per tahun. Kondisi ini tak serta merta menjamin ketersediaan air merata dan optimal karena kapasitas air tertampung hanya sebesar 62%, 38% air terbuang ke laut karena tampungan yang terbatas," terang Bob.
(dce) Add
source on Google