Kiamat Air Nyata! Bumi Kini 'Bangkrut' Secara Global
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kini resmi memasuki era kebangkrutan air global. Hal ini tertera dalam laporan terbaru lembaga riset Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Selasa (21/1/2026).
Fenomena ini terjadi karena sungai, danau, dan akuifer menyusut jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan alam untuk memulihkannya kembali secara alami. Krisis ini dipicu oleh penggunaan berlebihan selama puluhan tahun, polusi masif, hingga tekanan perubahan iklim yang menghancurkan sistem air di berbagai belahan dunia.
Lembaga UN University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) menegaskan bahwa istilah stres air atau krisis air sudah tidak lagi cukup untuk menggambarkan realitas baru yang sangat mengerikan ini bagi penduduk bumi.
"Stres air dan krisis air bukan lagi deskripsi yang memadai untuk realitas air baru di dunia," tulis laporan dari UN University Institute for Water, Environment and Health tersebut. Istilah lama tersebut kini dianggap hanya sebagai peringatan masa depan, padahal dunia saat ini sudah berada dalam fase kerusakan permanen yang sangat dalam.
Tanda-tanda kebangkrutan ini terlihat jelas dari menyusutnya danau-danau besar dunia dan banyaknya sungai utama yang gagal mencapai laut pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Bumi tercatat telah kehilangan sekitar 410 juta hektar lahan basah atau setara dengan luas seluruh wilayah Uni Eropa hanya dalam kurun waktu lima dekade terakhir.
Selain itu, sekitar 70% akuifer utama yang digunakan untuk air minum dan irigasi terus menunjukkan penurunan drastis yang sangat mengkhawatirkan.
Perubahan iklim memperburuk situasi dengan hilangnya lebih dari 30% massa gletser dunia sejak tahun 1970 silam yang menjadi sumber air bagi banyak wilayah. Kondisi ini mengancam ratusan juta orang yang sangat bergantung pada air lelehan musiman untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan industri maupun rumah tangga. Krisis "Day Zero" di wilayah perkotaan kini menjadi wajah nyata dari kenyataan pahit di mana permintaan air jauh melampaui ketersediaan pasokan yang ada.
Direktur UNU-INWEH, Kaveh Madani, menyatakan bahwa fenomena ini adalah peringatan keras bagi seluruh pemerintah di dunia untuk segera mengubah total kebijakan manajemen air mereka. Ia mendesak para pemimpin negara untuk berani jujur mengakui kondisi kebangkrutan ini sekarang juga daripada menunda keputusan yang sangat krusial.
"Mari kita adopsi kerangka kerja ini, mari kita pahami ini, mari kita akui kenyataan pahit ini hari ini sebelum kita menyebabkan kerusakan yang lebih tidak bisa diperbaiki," tegas Madani.
Laporan yang akan segera diterbitkan secara formal ini mencoba mendefinisikan ulang situasi kritis air global agar dunia menyadari skala ancaman yang sedang dihadapi. Tim Wainwright, Chief Executive WaterAid, menyebutkan dalam pernyataannya bahwa laporan ini menangkap kebenaran yang sangat keras bahwa krisis air dunia telah melewati titik yang tidak bisa kembali.
Meski sebagian ilmuwan mencatat adanya variasi di tingkat lokal, pengakuan atas kebangkrutan air ini dipandang sebagai langkah krusial untuk menyelamatkan masa depan planet ini.
(tps)[Gambas:Video CNBC]