MARKET DATA
Internasional

Awas Yuan Makin Kuat, China Tahan Suku Bunga Acuan di Level Rendah

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
24 February 2026 18:05
Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Mata uang Rupiah, Yuan, dan Won. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral China memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga pinjaman acuannya pada Selasa (24/2/2026). Langkah tersebut diambil sebagai strategi navigasi untuk mendukung ekonomi yang melambat sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar mata uang di tengah tren penguatan Yuan.

People's Bank of China (PBOC) secara resmi menahan Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun di level 3% dan tenor 5 tahun di level 3,5%. Keputusan ini memperpanjang masa stabil suku bunga selama sepuluh bulan berturut-turut meskipun pertumbuhan ekonomi domestik terpantau masih tersendat.

Penahanan suku bunga ini menjadi krusial karena tenor 1 tahun merupakan tolok ukur bagi sebagian besar pinjaman baru dan berjalan, sedangkan tenor 5 tahun menjadi acuan utama untuk sektor Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ekonomi China sendiri hanya tumbuh 4,5% secara tahunan pada kuartal terakhir tahun lalu, yang merupakan laju terlambat sejak pencabutan pembatasan Covid-19 pada akhir 2022.

Otoritas moneter saat ini sedang berjuang keras menarik keluar ekonomi dari jebakan deflasi karena konsumen terus memangkas pengeluaran. Hal ini dipicu oleh kelesuan sektor real estat yang berkepanjangan, pasar tenaga kerja yang suram, serta ketidakpastian prospek pendapatan masyarakat.

Pertumbuhan penjualan ritel bahkan merosot ke level terendah dalam 3 tahun terakhir menjadi 0,9% pada Desember, sementara deflator PDB terus berada di zona negatif selama 11 kuartal berturut-turut. Sebagai respons, pembuat kebijakan mulai mengalihkan fokus pada konsumsi jasa seperti layanan lansia dan pariwisata untuk menambal lemahnya permintaan barang.

Di saat yang sama, mata uang Yuan terus menunjukkan penguatan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir terhadap dolar AS. Berdasarkan data LSEG, Yuan offshore menguat dari posisi 6,974 per dolar AS pada awal tahun menjadi 6,889 pada Selasa pagi hari ini.

PBOC dalam beberapa pekan terakhir memberikan sinyal adanya toleransi terhadap penguatan mata uang ini, didorong oleh pelemahan dolar AS secara global yang membuka jalan bagi Yuan untuk terus melaju. Bank sentral China diketahui mengelola Yuan dengan sistem band 2% dari titik tengah yang ditetapkan setiap hari perdagangan.

Pejabat moneter China telah menggerakkan apa yang disebut sebagai level penetapan (fixing level) ke bawah, hingga menembus di bawah angka psikologis 7 untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun pada akhir Januari lalu. Namun, penguatan Yuan yang terlalu tajam berisiko menguji daya saing mesin ekspor China yang saat ini sudah tertekan akibat kebijakan tarif Amerika Serikat.

Eksportir China kini menghadapi tekanan harga yang berat dari rival manufaktur negara lain karena keunggulan kompetitif mereka tergerus oleh nilai tukar. Kondisi ini menuntut PBOC untuk sangat berhati-hati dalam menjaga keseimbangan antara daya saing ekspor dan stabilitas moneter.

Ekonom di ING memproyeksikan pita fluktuasi mata uang China akan berada di rentang 6,85 hingga 7,25 tahun ini seiring langkah Beijing mendorong internasionalisasi Yuan. "Faktor yang tidak terduga (wildcard) akan muncul jika objektif stabilitas mata uang ini mulai melunak pada tahun 2026," tulis bank tersebut dalam laporannya.

(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: China Catat Deflasi 0,3% (YoY) di September 2025


Most Popular
Features