Agrinas Impor 105.000 Unit Pikap India, Bos Logam & Mesin Mulai Cemas

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Senin, 23/02/2026 17:25 WIB
Foto: Kolase mobil pickup Mahindra Scorpio dan Tata Yodha. (Dok. Mahindra dan Tata)

Jakarta CNBC Indonesia - Rencana impor 105.000 unit kendaraan pick up dalam satu tahun fiskal memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri manufaktur. Isu ini tidak hanya dilihat sebagai persoalan dagang, melainkan berpotensi memicu gangguan serius pada struktur pasar domestik.

Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) Dadang Asikin menilai, tambahan volume sebesar itu dapat mengganggu keseimbangan pasar kendaraan niaga ringan nasional yang selama ini relatif terbatas.

"Jika impor 105.000 unit pick up benar-benar terealisasi dalam satu tahun fiskal, maka skenario terburuk yang mungkin terjadi adalah disrupsi pasar domestik kendaraan niaga ringan, khususnya segmen 4x2 dan 4x4 yang volumenya tidak sebesar kendaraan penumpang," ujar Dadang kepada CNBC Indonesia, Senin (23/2/2026).


Menurutnya, lonjakan suplai dalam waktu singkat hampir pasti memicu tekanan harga. Ketika pasokan melampaui daya serap pasar, hukum supply dan demand akan bekerja.

"Tambahan sebesar itu berpotensi menciptakan over-supply. Dampaknya adalah perang harga yang akan menekan margin industri secara keseluruhan," katanya.

Tekanan tersebut tidak berhenti di level distributor atau ATPM. Dampak paling nyata justru akan dirasakan industri hulu dan pendukung yang selama ini menopang produksi kendaraan dalam negeri.

Foto: Mobil pickup Tata Yodha. (Dok. Tata)
Mobil pickup Tata Yodha. (Dok. Tata)

"Turunnya utilisasi industri lokal tidak bisa dihindari. Industri karoseri, pengecoran logam, stamping, welding, hingga perakitan mesin akan terdampak langsung," jelasnya.

Ia menegaskan, sektor logam dan mesin selama ini menjadi tulang punggung manufaktur nasional. Ketika volume produksi kendaraan ditekan oleh impor, kapasitas pabrik yang telah dibangun dengan investasi besar akan menganggur.

"Padahal industri logam dan mesin adalah backbone manufaktur nasional. Jika utilisasi turun, efeknya merambat ke seluruh rantai pasok," ujarnya.

Lebih jauh, pelaku UMKM komponen sebagai pihak paling rentan. Tier 2 dan Tier 3 supplier, yang selama ini bergantung pada order dari industri otomotif, berpotensi kehilangan pekerjaan.

"Supplier kecil seperti bengkel machining, fabrikasi kecil, pengecatan, dan usaha komponen lain bisa kehilangan order. Konsekuensinya adalah pengurangan jam kerja hingga PHK bertahap," tegasnya.

Ia mengingatkan, kondisi tersebut bisa menjadi titik awal pelemahan struktur industri jika tidak segera diantisipasi dengan kebijakan yang terukur dan konsisten.

"Jika tidak dikendalikan, kombinasi over-supply dan tekanan harga bisa mempercepat pelemahan industri nasional yang selama ini kita bangun," ujar Dadang.


(fys/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Program Unggulan Grab Bantu Driver-UMKM Kota Kecil Go Digital